2018, Pemerintah Janji Bebaskan Hutan Hujan Tropis Sumatera dari Daftar Bahaya

photo : netralnews

 

Kepala Bidang Sejarah dan Warisan Dunia Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Dohardo Pakpahan mengatakan, sejak 2011, Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatra, sudah masuk daftar bahaya.

Di dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatera sendiri terdapat tiga taman nasional. Taman nasional tersebut meliputi, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

“Dari awal April 2018, IUCN (Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) sesuai sidang Wolrd Heritage Centre (WHC) di Krakow, diharap Indonesia menerima tim Reactif Monitoring Mission IUCN dan menerimanya sebagai wujud komitmen kita. Kenapa perlu dilakukan), karena pada 2018 kami berjanji mengeluarkan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra dari daftar bahaya,” kata Dohardo saat Taklimat Media Hari Warisan Dunia 2018 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senin (16/4/2018).

Oleh karena itu, tim Reactif Monitoring Mission IUCN akan paparkan hasil monitoring dan memberi masukan untuk selanjutnya akan disampaikan pada sidang WHC ke 42 di Bahrain. “Saat sidang, nanti diputuskan dapat keluar atau tidak (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra) dari daftar bahaya,” sambung Dohardo.

Lebih lanjut Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadjamuddin Ramly mengatakan, keberadaan tim Reactif Monitoring Mission IUCN amat mendesak. Bahkan, Tropical Rainforest Heritage of Sumatra menjadi salah satu pusat perhatian United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Bagi Nadjamuddin, keberadaan tim Reactif Monitoring Mission IUCN juga menjadi salah satu bentuk perhatian dari UNESCOpada Indonesia.

“Mereka (UNESCO) harapkan, hutan lindung (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra) jadi paru-paru dunia. Menjadi tempat bagi makhluk bisa hidup dan berbagai flora dan fauna tumbuh dalam aspek biologis dan genetik,” ujar Nadjamuddin.

Source :

netralnews

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


five × three =