Balai Wilayah Sungai Sumatra III Peringati Hari Air Dunia ke XXIV, Ini Pesan Asmelita

photo : riaugreen

 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Balai Wilayah Sungai Sumatra III yang ada di kota Pekanbaru meliputi Provinsi Riau gelar acara Peringatan Hari Air Dunia (HAD) ke XXVI, kegiatan dilaksanakan di Stasiun Pompa Banjir Kecamatan Senaplan Rumbai, Kamis (22/3/2018) pagi ini.
Dalam acara tersebut turut hadir tamu undangan dari Bapeda, Dinas PU Provinsi, Camat Senaplan, Kapolsek, Kamtibmas, RT, RW, Komunitas Peduli Sungai dan tidak lupa adik-adik mahasiswa UNRI serta pelajar dari SMK Muhammadiyah dan seluruh karyawan serta karyawati Balai Wilayah Sungai Sumatra III.
“Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatra III Asmelita ST, SP.1 mengatakan kepada riaugreen.com saat dilapangan. Kegiatan ini direncanakan akan berlangsung selama 2 hari hingga Jumat besok. Adapun agenda kita harini yang sedang berlangsung seperti penanaman dan pembagian bibit pohon sebanyak 500 batang, dilanjut dengan donor darah sudah mencapai 74 kantong serta seluruh karyawan turut membersihkan sampah yang berada di pinggiran sungai siak dan sungai senapelan.
Tahun sebelumnya Balai Wilayah Sungai Sumatra III melaksanakan Peringatan HAD ke XXIV pada tahun 2015 di Parit Belanda sedangkan Peringatan HAD ke XXV tahun 2016 di Embung Payung Sekaki Akap dan sekarang acaranya di Stasiun Pompa Banjir Kecamatan Senaplan.
“Asmelita menambahkan, Melalui Direktorat Jendral Sumber Daya Air saat ini mengadakan HAD serentak yang dilaksanakan di 34 Provinsi secara bersamaan. sedangkan puncak acaranya HAD nanti pada tanggal (7/4) dilaksanakan di Semarang tepatnya di daerah Rawah Pening.
Sedangkan Riau sendiri saat ini lebih focus kepada pembersihkan pinggiran sungai siak serta melaksanakan penanaman pohon, selain itu menyerahkan alat kebersihan kepada RT dan RW, kegiatan ini berlanjut hingga esok hari dengan acara seminar tentang air di hotel angkasa yang meliputi mahasiswa dan pelajar,” terang Asmelita.
“Asmelita mengajak semua lapisan masyarakat peduli dengan sungai, karena kalau musim kemarau sulit kita mendapatkan air, sedangkan kalau musim hujan kita sering kebanjiran, jadi jangan sampai kita membuang sampah sembarangan.
Ia berharap kedepannya kita bisa menggerakkan masyarakat agar dihalaman rumah yang masih punya tanah kosong dapat dijadikan sumur resapan, jadi air dari rumah masyarakat tidak langsung mengalir ke sungai atau kelaut langsung melainkan kesumur resapan baru dialirkan ke sungai.
Source :

riaugreen

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


nineteen + 11 =