Gerakan untuk Menyelamatkan Hutan Sumatera Utara

 

Gerakan penyelamatan rimba terakhir Sumatera Utara (Sumut) menjadi sangat penting, di saat rimba perkasa yang kita agungkan itu sudah habis diekploitasi dan dialihfungsikan secara perlahan oleh para korporasi raksasa.

Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi, Minggu (22/4) dan dalam rangka penyelenggaraan kegiatan Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH), WALHI meluncurkan program ‘Penyelamatan Rimba Terakhir’, bertempat di Sumut. kampanye ini memiliki tujuan untuk mengajak publik secara luas guna mengingat kembali bahwa Sumut merupakan wilayah yang alam hutannya dihancurkan secara perlahan.

Seabad lalu perkebunan sawit masuk dan menjadi prototype bagi investasi perkebunan sawit, dilanjutkan dengan penghancuran hutan alam untuk kepentingan industri bubur kertas dan kertas. Namun sejarah gerakan lingkungan di Indonesia mencatat perjuangan rakyat yang begitu besar sejak dulu, dan hingga hari ini perjuangan tersebut tidak pernah padam.

WALHI menyadari penyelamatan rimba terakhir yang tersisa tidaklah semudah membalikan telapak tangan, terlebih momentum politik selalu menempatkan hutan dan kekayaan alam lainnya sebagai ladang untuk meraup pundi-pundi pendanaan demi melanggengkan kepentingan politik kekuasaan, dengan mengorbankan lingkungan serta generasi mendatang yang berhak menikmati dan merasakan hutan dengan seluruh fungsi ekologis dan nilai sosial budaya, termasuk sumber pengetahuan, kehidupan bagi masyarakat.

“Pengrusakan hutan selalu berawal dari tahun politik. Politisi perlu amunisi sedangkan pengusaha butuh kayu atau hutan untuk perluasan lahan dan investasi. Maka terjadilah perubahan regulasi yang akhirnya berujung pada kerusakan hutan,” ungkap Zenzi Suhadi, Kepala Departemen Kajian dan Pembelaan Hukum WALHI, sekaligus Ketua Pelaksana KNLH dan Pekan Bumi, di Jakarta belum lama ini.

Akibatnya rimba yang terbelenggu banyak kepentingan golongan itu, membuat adanya penguasaan lahan oleh korporasi, mirisnya masyarakat yang harusnya menjadi ‘raja’ di wilayahnya sendiri, seperti tersingkirkan dari ruang dan sumber daya alam (SDA) yang sejatinya menjadi modal hak hidup mereka.

Kondisinya saat ini, Zanzi menceritakan masyarakat telah menjadi subjek teritori yang tidak lagi memiliki lahan, sebaliknya masyarakat kini malah menjadi petani pekerja di perkebunan. “Tak hanya kehilangan, secara kultur masyarakat pun turut berubah. Identitas mereka seperti memudar, biasanya mereka menyebut desa, atau kampung untuk menunjukan tempat tinggalnya, kini justru lebih mengarahkan dari perkebunan mana,” terangnya.

Beban kerugian dari dari penguasaan atas lahan ini juga berdampak pada negara, Zanzi menceritakan jika biaya pemulihan lahan sangat lah mahal, sekitar Rp 200 triliun untuk memulihkan kerusakan parah dari hutan.

Menurut data WALHI, pelepasan kawasan hutan menjadi perkebunan paling banyak terjadi pada rezim Orba yakni sekitar 4 juta hektare (Ha) dan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yakni 2,06 juta Ha. Sementara era Jokowi tercatat 115.256 Ha, Megawati 47.293 Ha, Gus Dur 501.443 Ha, dan Habibie 56.744 Ha. “Kalau Rimba Terakhir dibiarkan rusak juga, maka hilang lah peradaban kearifan lokal, dan identitas masyarakat hilang,” sebutnya.

Musisi Turun Tangan

Atas kerusakan hutan yang semakin memprihatinkan ini, WALHI lewat agenda KNLH berupaya mendorong komitmen pihak terkait untuk merumuskan solusi dari krisis ekologi tersebut. Untuk menguatkan komitmen itu, WALHI juga menggandeng jajaran musisi untuk mengambil peran guna menyelamatkan rimba Indonesia.

“Dukungan dari musisi ini sangat berarti bagi perjuangan masyarakat dan gerakan lingkungan hidup di Indonesia dalam menyelamatkan rimba terakhir yang kini semakin terancam,” terangnya.

Andy Fadly Arifuddin, Rindra Risyanto Noor dari grup musik PADI dan Rival Hirman (Pallo) yang dikenal sebagai basis band beraliran reggae, Steven & Coconuttreez merupakan Sahabat WALHI yang mengambil bagian dalam kampanye penyelamatan Rimba Terakhir, yang diluncurkan dalam perhelatan Pekan Bumi pada Minggu.

Fadly, berharap ke depan akan semakin banyak lagi musisi untuk memberikan perhatian terhadap penyelamatan hutan dari kerusakan. “Penghancuran hutan menjadi keresahan bersama. Saya sebagai musisi terpanggil untuk mengingatkan semua pihak untuk menjaga kelestarian hutan,” harapnya.

Terlebih Fadly telah melihat secara langsung kondisi rimba terakhir, ketika melakukan perjalanan ke Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, Kepulaun Riau, pada perhelatan Festival Sagu, beberapa tahun lalu.

“Saya sempat menitikan air mata, ketika masyarakat menyambut kedatangan di Sungai Tohor. Anak-anak kecil dengan sigapnya bermain ketimpring, sembari menyayikan lagu ‘Insyallah’ mereka tahu ternyata meski hidup serba terbatas, listrik di sana juga sangat minim. Kondisi ini diperparah ternyata di balik itu semua, ada peran korporasi di belakangnya yang salah sedikit saja penangannya, bisa merusak hutan yang telah mereka miliki secara turun temurun,” cerita Fadly.

Rasa getir yang didapat sepanjang kunjungannya di Sungai Tohor, pun sedikit terobati ketika melihat masyarakat di sana sejauh ini mampu mengelola kekayaan alam sekaligus menjaga kelestariannya.

Berbagai olahan sagu sangat khas di wilayah itu, ancaman baru pun muncul tepatnya pada generasi muda yang belakangan Fadly melihat adanya pergeseran minat untuk bekerja.

“Ini menjadi tantangan kami juga sebenarnya. Untuk memberi semangat kepada anak muda meneruskan pekerjaan sebagai petani sagu,” terang Fadly.

Rindra menambahkan semangat itu diberikan dengan cara menguatkan mindset mereka terhadap pekerjaan sebagai petani sagu.
“Kita menyampaikan, kalau sebenarnya pekerjaan itu keren dan bermanfaat dan juga sangat menguntungkan sebenarnya. Yang terpenting melalui pekerjaan ini, mereka generasi penerus ini bisa menjaga alam tempat tinggalnya dengan baik, “ sambung Rindra.

Selain itu kehadiran Fadly dan Rindra juga untuk mendukung perjuangan masyarakat Sungai Tohor guna mendapatkan kembali hak-hak masyarakat atas lingkungan hidup dan wilayah kelolanya. Masyarakat Sungai Tohor sebelumnya menjadi korban kebakaran hutan dan lahan, akibat praktik buruk industri skala besar.

“Harapan kami, dukungan dari para pekerja seni, musisi khususnya agar dapat menggerakkan publik luas untuk menyelamatkan Rimba Terakhir, menyelamatkan lingkungan hidup, demi generasi hari ini dan generasi yang akan datang,” tandas Rindra.

Source :

jakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


three × 4 =