Kampanye Pesona Sumatera Utara Lewat Petra

Photo : kompasiana

 

Sumatera Utara (Sumut) adalah provinsi dengan potensi daerah yang berlimpah. Mulai dari potensi di bidang pariwisata, kemajemukan suku, keberagaman agama, sumber daya alam, dan lain-lain.

Potensi ini harus dikampanyekan, agar masyarakat luas, khususnya warga Sumut dapat menjaga ataupun memanfaatkan potensi tersebut untuk kebaikan bersama. Kampanye potensi daerah tak melulu harus lewat media sosial, ceramah, ataupun diskusi ilmiah.

Pertunjukan rakyat (petra) yang dilakukan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di Sumut kini menjadi alternatif kampanye.

Suasana hall Hotel Santika Dyandra Medan seketika pecah. Pada deretan belakang hall, Yunita Simangunsong dan enam anak muda lainnya bersorak kegirangan ketika pembawa acara mengumumkan KIM Martabe yang diwakili Yunita meraih juara satu dalam Lomba Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) tingkat Sumatera Utara yang dilaksanakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumut, Senin (29/10/2018).

Dengan langkah pasti, Yunita dan keenam temannya maju ke sisi depan panggung. Tepuk tangan undangan dan senyum sumringah dari mereka bertujuh meningkahi langkah mereka. Sebuah piala dan uang tunai Rp 8 juta yang diserahkan Kepala Dinas Kominfo Sumut, Fitriyus membuat keceriaan Yunita dan teman-temannya menjadi lengkap.

“Kami senang. Target kami memang tidak harus juara satu. Tetapi sewaktu berangkat dari Dolok Sanggul (ibu kota Kabupaten Humbang Hasundutan, red), kami hanya berusaha semaksimal mungkin untuk meraih yang terbaik. Dan kami tak menyangka, justru kami meraih juara pertama,” kata Yunita kepada tribun-medan, seusai penyerahan hadiah, Senin (29/10/2018).

Penampilan KIM Martabe yang mewakili kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) memang sangat memikat dalam lomba tersebut. Dalam pertunjukan yang mereka bawakan, Yuni dan keenam temannya membawakan atraksi lakon, bermain musik, dan bernyanyi. Ketiga atraksi ini dikolaborasikan dengan apik oleh seluruh personel KIM Martabe.

Dalam lomba tersebut, Yuni dan keenam temannya membawakan pertunjukan yang berjudul Pesona Humbahas. Pertunjukan ini menceritakan potensi alam dan pariwisata kabupaten Humbahas. Pada atraksi lakon, ketujuhnya saling berbicara dan menanggapi tentang potensi alam dari kabupaten Humbahas seperti: kopi lintong, batik Humbahas yang baru saja dirilis pemerintah kabupaten, Humbang Shibori (kain khas Humbahas yang pewarnaannya menggunakan pewarna alami, keripik Humbahas serta hasil pertanian seperti bawang dan jengkol.

Pada satu adegan lakon, Yunita tampak berbicara kepada teman-temannya tentang batik Humbahas. Yunita menyampaikan bahwa Pemkab Humbahas baru saja merilis (meluncurkan) batik Humbahas. Tampilan gambar dalam batik ini disebut sungguh memikat. Biji kopi lintong yang sudah kesohor hingga ke mancanegara tersebut dipadukan dengan pisau gajah dompak (alat berperang Raja Sisingamangaraja XII) dan lambang Raja Sisingamangajara XII.

Pada adegan lain, Yunita mengajak semua teman-temannya untuk mencintai dan memakai batik Humbahas. Menutup pertunjukan tersebut, Yunita menyanyikan lagu daerah Batak “Marsipature Hutana Be/Martabe”. Pertunjukan yang sempurna. Iringan musik tradisional Batak seperti seruling, tagading, gendang, dan sarune etek membuat Pesona Humbahas tampil semakin sempurna.

Sebagai juara pertama, KIM Martabe asal berhak mewakili Provinsi Sumatera Utara dalam Lomba KIM tingkat Nasional 2018 di Provinsi Banten, November mendatang. Untuk Juara II diraih KIM D’Bandar Timur Company dari Tanjung Balai, disusul KIM DCM asal Kota Medan. Sementara Juara Harapan I sukses disegel KIM DD Company dari Kabupaten Deliserdang, KIM Bertuah dari Serdangbedagai (Harapan II) dan KIM Sekata asal Nias Utara (Harapan III).

Para pemenang berhak menerima piala sekaligus uang pembinaan. Juara I mendapat hadiah dari Diskominfo Sumut sebesar Rp 8 juta, Juara II Rp 7 juta, Juara III Rp 6 juta, Harapan I Rp 5 juta, Harapan II Rp 4 juta dan Harapan III senilai Rp 3 juta.

Pada lomba tersebut, masing-masing kelompok dengan ciri khas daerahnya melakonkan adegan percakapan di atas panggung berisi informasi yang biasa diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang bersumber dari media sosial, internet, teknologi informasi, membahas soal kabar bohong atau hoaks yang sedang tren dewasa ini, hingga perkembangan kearifan lokal daerah mereka masing-masing.

Kadis kominfo Sumut Fitriyus saat membuka sekaligus memberi arahan ke seluruh peserta lomba menyampaikan, tujuan KIM digelar setiap tahun adalah untuk membina dan memberdayakan kelompok tersebut sehingga dapat menjadi wadah yang mencerdaskan masyarakat dan menyelaraskan program pemerintah dalam melaksanakan pembangunan.

“Tugas pemerintah bagaimana membina kelompok di masyarakat yang gunanya untuk mengembangkan potensi sesama mereka. Apa yang bisa diinformasikan KIM ini bukan hanya informasi tentang pembangunan, tetapi juga informasi tentang kebutuhan mereka sesama KIM,” kata Fitriyus.

Selain itu, lanjut Fitriyus, KIM berfungsi untuk meningkatkan harkat dan martabat pribadi dan kelompok itu sendiri, serta sebagai ujung tombak informasi bagi pemerintah secara langsung maupun orang perorang sehingga terhindar dari hoaks.

“Kehadiran KIM itu juga agar masyarakat melek teknologi. Contohnya seperti di Batubara ada kelompok tenunan yang bermasalah memperoleh benang. Karena teknologi, kelompok tersebut dapat membeli benang melalui internet. Sehingga tidak terkendala dan bingung lagi memperoleh benang,” ucapnya.

Fitriyus berharap keberadaan KIM dapat ditumbuhkembangkan oleh kepala daerah di Sumut dengan cara membina, diberdayagunakan karena dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan hubungan informasi antara pemerintah dan masyarakat. “Juara I Lomba KIM se Sumut akan mewakili provinsi kita ditingkat nasional pada November 2018,” pungkasnya.

Ketua Panitia sekaligus Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Publik Diskominfo Sumut, Gadis Melani Rusli mengtaakan, terdapat 14 KIM dari 14 kabupaten dan kota yang ikut sebagai peserta pada lomba tersebut. Kata dia, KIM adalah kelompok yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat itu sendiri.

“Ini kelompok yang mandiri. Kita tidak biayai, namun kita hanya memonitoring mereka,” ujarnya. “Kalau dulu informasi ini diperoleh dengan cara top-down, dari atas kebawah. Kalau sekarang enggak, bottom-up. KIM ini untuk menjadi agen informasi pemerintah. Target dari kegiatan ini Provinsi Sumut minimal di kecamatan memiliki KIM,” imbuhnya.

Source :

tribun news

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


three − three =