Kanker Jaringan Ikat dengan Gejala Nyeri Sendi

Nyeri sendi memang belum tentu pertanda penyakit rematik. Bisa jadi, gejala nyeri sendi menjadi tanda-tanda penyakit yang lebih serius dan rumit, seperti sarkoma.

Photo : koran jakarta

 

Sarkoma merupakan jenis kanker yang berkembang di jaringan ikat, seperti otot, lemak, tulang, tulang rawan, dan pembuluh darah. Kanker ini bisa muncul di bagian tubuh mana pun, serta memiliki gejala yang tampaknya tidak berbahaya dan sulit dibedakan dari penyakit-penyakit ringan.

“Ini memprihatinkan karena sampai saat ini pemahaman kita akan sarkoma yang begitu kompleks ini masih kurang lengkap, khususnya di Asia,” kata Dr. Richard Quek, Konsultan Senior Onkologi Medis Parkway Cancer Centre (PCC), di Jakarta, pekan lalu.

Dibandingkan dengan populasi barat, lanjutnya, masih belum banyak pusat data nasional yang resmi di Asia, sehingga data tentang prevalensi sarkoma dan bagaimana penyakit tersebut dikelola di wilayah ini masih terbatas. “Inilah yang sering menyebabkan diagnosis yang terlambat atau tidak akurat, yang kemudian menyebabkan penanganannya juga tidak tepat,” sambungnya.

Ia menambahkan bahwa kesadaran dan pemahaman tentang sarkoma masih cenderung rendah, baik di kalangan masyarakat umum maupun tenaga kesehatan profesional.

Studi dari AS memprediksi, lebih dari 13.000 orang di AS akan terdiagnosis memiliki sarkoma jaringan lunak pada 2018, dan mengakibatkan sekitar 5.000 kematian.

Sementara itu, penelitian lain menemukan kesalahan penanganan pada 70 persen pasien, sehingga turut berkontribusi pada masih rendahnya tingkat kelangsungan hidup rata-rata lima tahun, yaitu sekitar 50 persen saja.

Penelitian di Inggris menunjukkan adanya kurang pemahaman pada gejala awal, menyebabkan 20 persen dokter umum terlambat lebih dari tiga bulan dalam merujuk pasien tersebut ke dokter spesialis.

Sementara itu, ahli bedah ortopedi yang berpraktek di Mount Elizabeth Orchard Hospital, Singapura, Leon Foo, mengatakan perlunya pendekatan multidisiplin, seperti kemoterapi atau terapi radiasi untuk mengecilkan ukuran sarkoma, yang diikuti dengan operasi pengangkatan tumor.

“Teknik ini memungkinkan kami untuk memperkecil efek samping, serta menyelamatkan lebih banyak jaringan dan fungsi tubuh,” kata Foo.

Menurutnya, amputasi juga merupakan metode umum untuk menghilangkan sarkoma tulang dan sarkoma jaringan lunak. “Namun, dengan kemajuan ilmu medis dan bedah saat ini, di Parkway Hospitals kami sekarang dapat lebih banyak melakukan operasi penyelamatan anggota gerak tubuh, untuk kasus sarkoma tulang dan sarkoma jaringan lunak,” tambahnya.

Gemar Menyamar

Di antara jenis kanker lainnya, kanker sarkoma mungkin terdengar sedikit asing.

Sarkoma merupakan salah jenis kanker ganas yang dapat menyerang tubuh. Kanker sarkoma dapat muncul di seluruh tubuh karena berkembang di jaringan ikat, seperti otot, lemak, tulang, tulang rawan, dan pembuluh darah.

Padahal sebenarnya kanker ini tergolong berbahaya sebab gejala dan ciri kanker ini sering kali tak disadari karena gemar menyamar. Saat gejala itu muncul banyak penderita menganggapnya tidak berbahaya lantaran dianggap sebagai penyakit ringan seperti nyeri dan perut kembung.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab berkembangnya sel kanker jaringan lunak ini. Namun, faktor yang meningkatkan risiko terkena sarkoma diantaranya adalah riwayat sarkoma di keluarga, memiliki penyakit kelainan tulang, kelainan genetik seperti neurofibromatosis, sindrom Gardner, retinoblastoma, atau sindrom Li-Fraumeni, dan juga terpapar radiasi.

Walaupun tergolong langka karena ditemui pada satu persen kasus kanker pada orang dewasa, perkembangan kanker ini kian pesat. Penelitian di Inggris menunjukkan lompatan signifikan dalam jumlah orang yang didiagnosis sarkoma setiap tahunnya, dari 3.800 menjadi 5.300 saat ini.

Berdasarkan data dari Parkway Cancer Center dan Parkway Hospitals, Singapura, terdapat lebih dari 70 sub-tipe kanker sarkoma.

Hal ini membuat sarkoma rumit didiagnosis dan ditangani. Belum lagi, pemahaman masyarakat dan bahkan sebagian tenaga medis masih sangat terbatas. Alhasil, diagnosis sering kali terlambat dan keliru yang membuat penanganan pun tidak tepat.

Penelitian menunjukkan terdapat kesalahan penanganan pada 70 persen pasien sarkoma. Kesalahan ini berkontribusi pada rendahnya tingkat kelangsungan hidup rata-rata lima tahun (five-year survival rate) yaitu sekitar 50 persen saja.

Studi dari Belgia juga mengungkapkan 47 persen pasien sarkoma jaringan lunak membiarkan gejalanya selama sekitar empat bulan sebelum menemui dokter. Setelah itu, pasien umumnya berkonsultasi ke dokter umum, yang kemungkinan besar hanya menghadapi satu atau dua kasus sarkoma sepanjang karier mereka.

Di Inggris, tercatat 20 persen dokter umum terlambat lebih dari tiga bulan dalam merujuk pasien tersebut ke spesialis.

Dokter Richard Quek menjelaskan kasus sarkoma banyak ditemui pada pasien dewasa muda dan remaja, kelompok usia yang jarang diasosiasikan dengan kanker.

Menurut Quek, gejala sarkoma yang timbul dapat berbeda-beda, tergantung dari mana sarkoma tersebut berasal. Sarkoma jaringan lunak yang muncul di lengan atau kaki, memiliki gejala paling umum seperti munculnya benjolan besar tanpa rasa sakit.

“Sedangkan, sarkoma yang tumbuh di tulang tangan atau kaki, pasien umumnya mengeluhkan nyeri tulang, serta sakit di sekitar area tulang yang terdampak ketika beristirahat atau tidur malam. Beberapa pasien bahkan mungkin mengalami retak tulang,” tambahnya.

Gejala-gejala lainnya meliputi ruam gelap pada angiosarcoma atau kanker pembuluh darah, batuk dan sesak napas jika sarkoma berkembang di area dada, serta kembung dan mudah merasa kenyang jika sarkoma tumbuh di bagian perut.

Jika menemui gejala ini, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyadari kondisi tubuh sendiri. Kemudian, tanyakan pada dokter umum apakah Anda perlu menemui dokter spesialis atau menjalani tes lebih lanjut, seperti MRI atau CT scan, jika gejala tidak hilang setelah pengobatan rutin,” kata Quek.

Menurut Quek, kanker sarkoma yang dideteksi dini saat sel masih berada di satu lokasi, tingkat kelangsungan hidup akan jauh lebih tinggi dibandingkan jika didiagnosis pada tahap akhir.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


nineteen − seventeen =