Populasi Gajah Liar di Sumatera di Bengkulu Tinggal 37 Ekor

Photo : beritasatu

 

Bengkulu – Populasi gajah liar sumatera di wilayah Provinsi Bengkulu saat ini tersisa 37 ekor dan tersebar di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko.

“Dari hasil pendataan kita di lapangan, saat ini jumlah populasi gajah sumatera di Bengkulu, tinggal sekitar 37 ekor. Gajah sebanyak ini berada di kawasan hutan TNKS dan hutan lindung di wilayah Bengkulu Utara dan Mukomuko,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Abu Bakar, di Bengkulu, Minggu (11/3).

Ia mengatakan, gajah liar sebanyak 37 ekor itu, terdiri dari tiga kelompok, yakni kelompok 12, kelompok 15 dan kelompok 10. Kawanan gajah liar ini menetap di kawasan hutan TNKS dan hutan lindung yang ada di dua kabupaten tersebut.

Selain itu, BKSDA Bengkulu, saat ini masih melakukan membina terhadap sebanyak 12 ekor gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara.

“Jadi, total Sumatera yang ada di Bengkulu, saat ini sekitar 49 ekor, terdiri dari gajah liar sebanyak 37 ekor dan gajah yang dilatih di PLG Sebelat, Bengkulu Utara sebanyak 12 ekor,” ujarnya.

Abu Bakar menambahkan, keberadaan gajah liar sumatera yang ada di wilayah Bengkulu, terus dipantau dan diawasi oleh petugas BKSDA setempat. Hal ini dilakukan jangan sampai satwa langka ini mati dibunuh oleh masyarakat sebab beberapa kali ditemukan bangkai gajah Sumatera di kawasan perkebunan masyarakat.

Satwa langka ini sering masuk ke areal perkebunan milik masyarakart dan perusahaan di wilayah Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko untuk mencari makan karena kawasan hutan yang menjadi tempat gajah sumatera mencari makan terus dirambah masyarakat untuk dijadikan lahan perkebunan tanaman keras, seperti kopi, karet dan kelapa sawit.

Akibatnya, ruang gerak gajah Sumatera yang ada di wilayah tersebut, terbatas sehingga mencari makan ke areal perkebunan masyarakat dan perusahaan yang ada di daerah itu.

Karena itu, BKSDA Bengkulu, mengimbau masyarakat dan perusahaan untuk menghentikan aksi perambahan hutan yang menjadi tempat habitat gajah Sumatera di wilayah Bengkulu Utara dan Mukomuko. Dengan demikian, gajah Sumatera tidak lagi masuk ke dalam kebun masyarakat dan kebun perusahaan yang ada di daerah tersebut, seperti yang sering terjadi selama ini.

“Ini semua terjadi karena lahan hutan yang menjadi habitat gajah sumatera di daerah ini, terus berkurang sehingga aktivitas terganggu. Akibatnya, satwa ini sering masuk ke kebun warga dan perusahaan untuk mencari makan,” ujarnya.

Source :

beritasatu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


four × four =