Populasi Gajah Terus Menurun, BKSDA Jambi akan Panggil Perusahaan

photo : tribunnews

 

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, Rahmad Simbolon, mengaku sudah mengetahui persoalan gajah di Tebo yang dalam posisi terancam, yang pada akhirnya berdampak pada masyarakat sekitar.

Saat ditemui di ruanganya, Jumat (27/4), dia mengatakan bahwa saat ini pihaknya berencana akan memanggil beberapa perusahaan khususnya untuk menindak lanjuti permasalahan ini.

“Masalah ini terus terjadi setiap tahunya. Kita sudah berencana untuk memanggil perusahaan itu untuk menindak lanjuti persoalan ini,” katanya.

“Ini tidak ada jalan alternatif, semua harus disusun agar memiliki manfaat untuk jangka panjang. Kalau kita putuskan sendiri ini tidak ada manfaatnya untuk kehidupan gajah di sana,” ujarnya.

Dia menyebut, sebenarnya gajah itu bisa hidup layak bila memiliki habitat baru. “Tapi kan itu tidak mungkin untuk tiga sampai empat tahun dilakukan. Makanya persoalan ini harus duduk bersama dengan beberapa pihak lainya,” jelasnya.

Selain itu, Rahmad juga berencana akan membuat workshop dengan mengundang sejumlah perusahaan dan sejumlah peneliti gajah serta beberapa lembaga yang menangani gajah. “Hal ini dilakukan agar nantinya ada kesepakatan bersama bagaimana menyelematkan gajah dan manusia agar tidak lagi konflik,” jelasnya.

Dikutip dari laman wwfindonesia, gajah Sumatera merupakan ‘spesies payung’ bagi habitatnya. Gajah juga mewakili keragaman hayati di dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidup.

Gajah Sumatera mempunyai ukuran tinggi badan sekitar 1,7-2,6 meter. Jika dibandingkan dengan gajah Afrika, ukuran Gajah Sumatera lebih kecil. Saat ini kondisi populasinya semakin menurun seiring dengan tingginya laju kehilangan hutan Sumatera.

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) saat ini berada dalam status kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah spesies terancam punah yang keluarkan oleh Lembaga Konservasi Dunia.

Di Indonesia, gajah Sumatera juga masuk dalam satwa dilindungi menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diatur dalam peraturan pemerintah, yaitu PP 7/1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Masuknya gajah Sumatera dalam daftar tersebut disebabkan oleh aktivitas pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat, serta pembunuhan akibat konflik dan perburuan. Perburuan biasanya hanya diambil gadingnya saja, sedangkan sisa tubuhnya dibiarkan membusuk di lokasi.

Source :

tribunnews

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


4 + 17 =