Rayakan Natal dan Tahun Baru, Sumatera Berdoa Serukan Tobat Nasional

Photos : Dalihannatolunews

 

Yayasan Sumatra Berdoa akan menggelar perayaan Natal dan menyambut Tahun Baru 2019, Jumat (7/12/2018), di Gedung GSJA Medan. Kegiatan diisi dengan evaluasi 2018 dan harapan di tahun 2019. Sumut berdoa juga mengajak untuk melaksanakan tobat nasional atas kondisi bangsa yang terjadi saat ini.

Demikian disampaikan tokoh agama sekaligus Ketua Umum Sumatra Berdoa, JA Fernandus didampingi Sekretaris Pendeta Lucas Timotheus dari GJSA dan Bendahara Paul F Wakkary dari PGPI, di Medan Club, Rabu (4/12/2018).

JA Ferdinanus menyebut Desember menjadi bulam penantian juru selamat dunia. Masing-masing umat Kristen mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus Kristus. Dalam evaluasi 2018, dikatakan, kondisi bangsa dalam keadaan memprihatinkan. Banyak bencana terjadi baik di darat, laut maupun udara. Hal itu menjadi pertimbangan untuk melaksanakan pertaubatan nasional dengan dimulai dari sendiri.

“Bencana tidak lagi memilih. Saya katakan Sumut Berdoa mengusahakan pertaubatan nasional lintas agama. Walaupun ada yang mengatakan taubat itu urusan pribadi, tapi dewasa inj bencana alam sudah di tingkat nasional. Maka pertaubatan nasional lah yang seimbang dan harus dilakukan. Kita lihat korban kecelakaan Lion Air, itu dari berbagai suku dan agama,” katanya.

Melalui perayaan ini diharapkan masing-masing umat mengintrospeksi diri. Sumut Berdoa menyerukan agar seluruh warga berpartisipasi memikirkan keadaan negara, tidak hanya menjadi penonton melainkan peserta yang aktif membantu melalui doa.

“Kerukunan bukan barang jadi, harus dirawat. Dengan merawat kerukunan antar agama lain kita menjaga perdamaian. Kita berbeda dalam agama, tapi saudara dalam bangsa. Jangan karena kita berbeda lalu kita terpecah, keberbedaan ini anugerah dari tuhan,” ungkapnya.

Ditambahkannya, dalam merayakan hari besar agama, harus diperjelas makna perayaan tersebut. Perayaan hari besar agama harus dititikberatkan kepada kepentingan bersama dengan mendoakan bangsa negara.

“Kecilakan keakuan dan bersarkan kekitaan. Selain besarkan agama tuhan dan menciptakan kedamaian di tengah bangsa kita. Damai itu indah tapi mahal,” katanya.

Kegiatan tersebut bertema “Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita” dan subtema setiap warga mempergunakan hak pilih dengan hikmat dan takut akan tuhan. Pembicara dalam perayaan itu, Pdt Daniel Tanzil. Fernandus mengatakan tema tersebut diambil mengingat Indonesia memasuki tahun politik. “Orang yang tidak memilih melepaskan tanggung jawabnya, kalau memilih berarti ikut bertanggungjawab atas pemilihan itu. Tidak memilik adalah hak. Tapi orang yang tidak memilih adalah orang yang tidak bertanggungjawab,” katanya.

Diharapkan dalam kegiatan itu nantinya hadir 300 pendeta lintas gereja, ormas Kristen dan Katolik, tokoh Kristen, mahasiswa dan Pemuda Remaja Gereja.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


twenty − one =