Sulit Bagi Indonesia Tuk Tingkatkan Keanekaragaman Hayati

Photo : akurat

 

Lembaga World Wide Fund (WWF) Indonesia mengadakan pemaparan laporan Living Planet Report (LPR) 2018 pada Jumat (16/11). Dalam laporan tersebut membahas tentang perubahan lingkungan secara global. Mulai dari tren atau fenomena yang terjadi hingga dampak di masa mendatang.

“LPR ini bercerita tentang bagaimana pentingnya keanekaragaman hayati, lalu bagaimana keadaan biodiversity konteksnya dengan tekanan dari aktivitas dalam pemanfaatan sumber daya alam, dan bagaimana gambaran kondisi hasil pemantauan panjang status biodiversity dan indeks biodiversity di masa depan,” kata Conversation Scientist WWF Indonesia Thomas Barano saat diskusi di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta.

Laporan ini melibatkan 83 scientis dan 11 negara dari seluruh benua. Dalam laporan tersebut, lanjutnya, Indonesia juga menjadi perhatian WWF untuk permasalahan lingkungan. Indonesia sendiri disebut menjadi negara megabiodiversity. Maka tak heran Tanah Air disebut-sebut menjadi negara kepulauan terkaya dalam hal sumber daya alam.

Sayangnya, masyarakat Indonesia memegang peran sebagai perusak lingkungan juga bahkan menyebabkan kepunahan.

Barano juga menyebutkan laporan tersebut juga memaparkan keadaan keanekaragaman hayati lebih mendetil karena menggunakan indikator komposisi.

“Kayak misalnya Papua yang masih tersedia hutan 83 persen itu dengan indikator yang baru ini kita bisa lihat bagaimana tren nya. Apakah pulau-pulau kita hutan yang masih bagus itu akan menuju kepada seperti Jawa yang menuju hilang,” lanjutnya.

Selain itu, ia masalah kepunahan hewan di setiap pulau juga dapat terpantau dengan baik.

“Kemudian juga kepunahan lokal juga bisa dilihat per pulau. Misalnya di Jawa sendiri harimau jawa sudah punah, lalu di sumatera populasi gajah, harimau juga sudah mulai. Artinya ruang-ruang mereka sudah sempit,” jelasnya.

Hal tersebut diakibatkan dari populasi yang meningkat menjadi penyebab keanekaragaman menurun. Di era teknologi juga memicu eksploitasi sumber daya. Ia juga menyebutkan akan terjadi penurunan populasi vertebrata dalam kurun 40 tahun.

“Dalam kurun 40 tahun spesies bertulang belakang atau vertebrata akan mengalami penurunan sebesar 60 persen,” tambahnya.

Ia pun menegaskan dalam laporan tersebut secara umum kenaekaragaman hayati di Tanah Air menurun dan sulit mengalami peningkatan lagi di masa depan.

“Secara umum biodiversity menurun. Misalnya badak jawa mencari habitat baru tidak mudah karena habitat yang seperti di Ujung Kulon itu sulit. Itu yang membuat populasinya naik karena tidak ada daya dukung yang kuat juga,” tegasnya.

Source :

akurat

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


thirteen − 11 =