Vaksin Belum Bersertifikat Halal MUI, Wali Kota Padang Kaji Ulang Imunisasi MR

Photo: ummatpos.com

 

PADANG – Pelaksanaan Imunisasi Measless Rubella (MR) di Padang akan segera dievaluasi. Pemerintah Kota Padang akan melakukan rapat untuk memastikan apakah imunisasi akan dilanjutkan atau tidak. Evaluasi ini terkait belum jelasnya status halal vaksin.

Rencana evaluasi itu disampaikan oleh Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah di Hotel Inna Muara Padang, Senin (6/8). “Kemarin saya dihubungi Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait vaksin MR. Hasil komunikasi dengan MUI dan beberapa ulama terkait vaksin MR sudah saya sampaikan ke Dinas Kesehatan. Nantinya akan ada koordinasi dengan pusat dan MUI,” kata Mahyeldi tanpa merinci hasil komuniasinya dengan MUI.

Mahyeldi mengatakan, campak dan rubella merupakan satu-satunya penyakit yang pengobatannya hanya bisa melalui imunisasi. Saat ini, kata Mahyeldi, vaksin campak dan rubella hanya ada dua di dunia yakni dari China dan India. “Untuk China sendiri sampai saat ini belum direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO). Vaksin yang direkomendasikan itu asal India. Kita memakai vaksin India itu,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Padang, Ferry Mulyani mengatakan, keputusan untuk tetap melanjutkan imunisasi MR agar melindungi anak-anak di Kota Padang dari bahaya campak dan rubella.

“Campak dan rubella adalah infeksi menular melalui saluran napas yang disebabkan virus. Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius seperti, radang paru, radang otak, diare, kebutaan, hingga kematian. Untuk tindakan imunisasi ini, kami mulai dalam dua fase,” katanya.

Ia mengatakan, tetap dilanjutkannya imunisasi MR ini tidak terlepas dari pencanangan yang sudah dilakukan Walikota Padang pada awal Agustus lalu di Komplek Yayasan Pendidikan Adzkia. “Hal ini perlu menjadi pemahaman kita bersama, agar masyarakat Kota Padang terlindungi dari bahaya campak dan rubella,” ujarnya.

Dijelaskan Ferry, Agustus ini sedang dilaksanakan fase pertama yang berpusat di fasilitas pendidikan SD-MI dan SMP-MTS sederajat. Sedangkan fase kedua akan berlangsung di Posyandu, Puskesmas, dan Fasilitas Kesehatan lain yang diperuntukkan bagi bayi dan anak prasekolah dan anak tidak sekolah.

“Tahun ini kami fokuskan imunisasi untuk anak berumur sembilan bulan sampai lima belas tahun. Kami hanya memperluas cakupan pemberian imunisasi karena 89 persen kasus rubella terjadi pada anak di bawah 15 tahun,” katanya lagi.

Source :

harianhaluan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


15 + thirteen =