Penggiat lingkungan menggaungkan banyak gerakan untuk menjaga satwa dan tumbuhan asli biodiversitas Indonesia. Salah satu satwa yang juga ikut diprihatinkan oleh para pakar, komunitas-komunitas dan lembaga swadaya masyarakat yang berfokus terhadap pemberdayaan lingkungan dan konservasi alam.

Lantas, apa alasan kita sebagai manusia dari seluruh lapisan atau elemen masyarakat harus menjaga dan menyelamatkan orangutan Indonesia ini? Dalam agenda diskusi daring yang digelar oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan bertajuk Conservation Talk: Orangutan dan Kita, pada Rabu (19/8/2020), sejumlah pihak baik dari pemerintah, industri, dan lembaga swadaya masyarakat sepakat menyatakan bahwa manusia sebagai seluruh elemen masyarakat sangat perlu menjaga dan menyelamatkan orangutan Indonesia.

Berikut alasannya:

1. Terancam kritis

Status konservasi terancam kritis itu dikeluarkan oleh Serikat Internasional untuk Pelestarian Alam (IUCN). Orangutan Sumatera telah lebih dulu menyandang status ini. Status konservasi terancam kritis menurut IUCN adalah kondisi flora atau fauna tersebut menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar.

Kajian Population and Habitat Viability Assessment Orang Utan (PHVA) 2016 menyebutkan akumulasi populasi yang tersebar di 42 sub meta populasi di Borneo diperkirakan terdapat 57.350 pada tahun 2016 dan diprediksikan sudah semakin berkurang populasi tersebut di tahun 2020 ini.

“Dulu kita bisa bilang Kalimantan masih aman. Populasinya antara 35.000-55.000. Tapi setelah survei naik lagi (keparahannya), sekarang sama dengan Sumatera, kritis,” kata pakar orangutan Universitas Indonesia Rondang Siregar, saat ditemui di Jakarta Pusat oleh Kompas.com, Rabu (3/7/2019).

Aktor Hollywood dan pegiat lingkungan internasional, Leonardo Di Caprio memberikan dukungan dalam upaya perlindungan orangutan sumatera (Pongo abelii) dari ancaman Covid-19. Dukungan itu dilakukannya dengan mengunggah kampanye crowd funding Sumateran Orangutan Conservation Programme (SOCP) yang berbasis di Medan, Sumatera Utara. Sementara, untuk kajian PHVA populasi dan distribusi orangutan Sumatera (Pongo abelii) pada 2004, dari 10 sub meta populasi diperkirakan terdapat 14.470 dan diprediksi sudah berkurang dari jumlah tersebut di tahun 2020 ini.

2. Spesies payung dan regenerasi hutan terbaik

Praktisi Konservasi Habitat Satwa Terancam Punah YKAN, M Arif Rifqi menjelaskan penting sekali kita untuk menjaga ekosistem dan keberadaan orangutan agar tidak punah. “Orangutan adalah spesies payung, jadi melindungi mamalia ini diharapkan dapat melindungi spesies lainnya yang hidup pada habitat yang sama,” kata Arif. Sebagai spesies payung, aktivitas orangutan akan mempengaruhi ekosistem di sekitarnya.

Dalam pemaparannya, Arif menjelaskan bagaimana peran orangutan dalam menjaga ekosistem di sekitarnya. Orangutan disebutkan memiliki daya jelajah yang luas dan mampu menyebarkan biji dari buah-buahan hutan yang dimakan dan keluar melalui kotoran.

Biji dari feses orangutan ini berkualitas bagus dan bisa tumbuh subur lebih baik daripada biji dari persemaian atau penanaman konvensional oleh manusia. “Itu sebabnya, orangutan juga disebut sebagai agen regenerasi hutan terbaik,” ujar Arif.

3. Menjaga kesehatan hutan tropis

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Sunandar Trigunajasa mengatakan, orangutan sangat berperan penting menjaga posisi kelestarian alam.

“Orangutan ini memberikan kesempatan matahari menyinari tanaman lainnya, ketika membuka sarangnya (di atas tajuk pohon) dan ini menjaga kesehatan hutan tropis Indonesia,” jelasnya.

4. Banyak potensi belum diekplorasi

Arif berkata, masih banyak potensi orangutan yang belum dieksplorasi manusia dan selama ini studi-studi tentang hewan bermarga Pongo ini lebih banyak mengupas populasi dan habitatnya. Padahal, menurut Arif, tanaman yang dikonsumsi orangutan berpotensi sebagai tanaman obat maupun tanaman pangan manusia karena tingkat kemiripan DNA antara orangutan dan manusia mencapai 97 persen.

Studi perilaku orangutan masih sangat terbuka dari sisi antropologi, biologi, kehutanan, hingga bioteknologi. Pesan alam lewat orangutan inilah yang belum diterjemahkan secara utuh. Di sisi lain, populasinya harus terus dijaga agar lestari hingga generasi nanti.

“Mempelajari bagaimana primata dengan penelitian genetiknya, yang bisa jadi treatment mencoba dan sumber penelitan, sumber kesehatan manusia,” tutur Sunandar.

5. Anugerah dari Tuhan

Di dunia ini hanya ada empat kelompok atau jenis kera besar yaitu Bonobo, Simpanse, Gorila dan Orangutan. Untuk diketahui, kera besar adalah keluarga primata yang masih saudara dengan monyet, gibobon dan lemur. Dari empat jenis kera besar di dunia tersebut, hanya orangutan yang bisa dijumpai atau satu-satunya ada di Asia. Ketiga lainnya adalah kera besar dari Benua Afrika.

“Ini kan istilah anugerah langka yang diberikan tuhan kepada bangsa Indonesia yang harus di jaga dan mayoritas sumber pakan orangutan di alam adanya di Indonesia,” ujar Arif.

Arif berkata, alasan ini jugalah yang menjadikan kita harus menjaga dan menyelamatkan orangutan Indonesia terlepas dari peran pentingnya satwa itu sendiri di alam.