Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menyelamatkan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan untuk menghindari konflik satwa liar dengan manusia.

“Pada Sabtu 22 Agustus 2020 Tim BBKSDA Sumatera Utara bersama-sama dengan petugas Koramil setempat, serta dari kecamatan dan masyarakat memasang perangkap (kandang jebak) untuk menangkap harimau tersebut karena konflik yang terjadi sudah mengkhawatirkan, di mana harimau tersebut hampir setiap hari masuk ke pemukiman warga,” ujar Kepala BBKSDA Sumatera Utara Hotmauli Sianturi, menurut keterangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) diterima di Jakarta, Senin.

Setelah menunggu beberapa hari, harimau sumatera tersebut berhasil masuk dalam kandang jebak pada Senin (24/8) dan telah dievakuasi ke Sanctuary Harimau Barumun Nagari untuk pengecekan kondisi kesehatannya.

Evakuasi harimau itu dilakukan setelah masyarakat Desa Tapus Sipagimbal melaporkan keberadaan hewan terancam punah itu. Harimau yang diberi nama “Sri Bilah” itu dilaporkan telah memangsa anjing, ular serta ternak di dekat pemukiman warga.

Setelah pemeriksaan, Sri Bilah diketahui merupakan harimau betina berusia 2-3 tahun dengan berat 45,2 kilogram. Harimau itu berada dalam kondisi sehat meski mengalami malnutrisi akibat pakan tidak cukup, sehingga terlihat kurus.

Harimau itu juga mengalami anemia, dehidrasi, mukosa pucat yang mengakibatkan kondisinya terlihat lemah. Selain itu, pemeriksaan lanjutkan menandakan Sri Bilah mengalami gangguan fungsi hati meski tim medis belum bisa memastikan apakah gangguannya bersifat akut atau kronis.

Pemeriksaan kesehatan masih perlu dilakukan untuk memastikan kondisi harimau sumatera itu. Selain itu pengawasan harus tetap dilakukan tim medis untuk memastikan nafsu makan, agresivitas dan pergerakannya.

Jika dinyatakan sehat, harimau itu dapat direkomendasikan untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) KLHK Indra Exploitasia menegaskan penyelamatan satwa perlu dilakukan karena dalam konteks konflik atau interaksi manusia dan satwa, diutamakan adalah keselamatan manusia.

“Sesuai dengan nalurinya, satwa akan mengikuti daerah jelajahnya. Dan konflik dapat terjadi saat overlap antara jelajah harimau tersebut dengan area kegiatan manusia. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu ada keseimbangan ruang hidup manusia dan satwa,” ujar Indra.

Dia menegaskan, harimau yang diselamatkan setelah dikembalikan ke habitat alamnya akan dipantau terkait peningkatan populasinya di alam dengan melibatkan masyarakat dalam hal monitoring satwa tersebut.