Abrasi pantai di Dusun Sukabandar, Desa Legundi, Kecamatan Ketapang merusak tanaman dan bangunan di kawasan pesisir pantai timur.

Mulkan, Kepala Desa Legundi menyebut, telah mengusulkan pembangunan tanggul penahan gelombang di kawasan di pantai Lampung Selatan tersebut. Namun usulan pembangunan tanggul sebutnya, belum terealisasi.

Pembangunan kawasan pesisir tersebut menurut Mulkan, jadi harapan masyarakat pesisir. Pasalnya selama puluhan tahun sebagian bangunan kampung nelayan, lokasi tambat perahu juga mengalami kerusakan. Upaya penggantian sejumlah pohon yang tumbang dengan tanaman baru telah dilakukan meski tak mampu menahan terjangan gelombang.

Usulan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan instansi terkait telah dilakukan. Mulkan menyebut, sesuai aspirasi masyarakat dibutuhkan tanggul sepanjang 3000 meter. Usulan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrembangdes) dibahas setiap tahun hingga tingkat kabupaten.

“Kawasan yang terkena abrasi merupakan pemukiman penduduk dan berpotensi mengubah kontur alam pesisir pantai sehingga pembangunan tanggul sangat penting. Karena kerusakan terus bertambah,” terang Mulkan saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (30/9/2020).

Kawasan yang menghadap Selat Sunda dan laut Jawa tersebut, diakui Mulkan rentan abrasi. Pantai sepanjang satu kilometer membentang dari perbatasan Desa Ketapang, Legundi hingga Tridharmayoga mengalami pergeseran garis pantai. Sesuai estimasi rencana anggaran bangunan yang diusulkan butuh biaya pembangunan tanggul mencapai Rp17 miliar.

Sebagai upaya sementara warga mencegah kerusakan pantai semakin parah, Mulkan menyebut telah mendorong warga menanam pohon. Sebagian pohon penahan abrasi jenis kelapa, ketapang, waru laut, cemara dan ketapang kencana telah ditanam. Namun sebagian tanaman rusak terimbas gelombang. Pembuatan tonggak penahan abrasi dari bambu dan kayu dilakukan warga secara swadaya.

“Memanfaatkan limbah ban bekas dan bambu, nelayan memilih membuat tanggul penahan gelombang sementara,” tegasnya.

Peristiwa alam yang berimbas abrasi menurut Mulkan, telah diantisipasi warga dengan banyak cara. Pembuatan tonggak pemecah ombak sekaligus media budi daya kerang hijau telah dilakukan. Media budi daya tersebut berupa tonggak kayu, bambu yang bertujuan menahan laju gelombang laut. Cara tersebut menahan pasir yang terbawa gelombang.

Sugeng, nelayan di Pantai Sukabandar menyebut, telah menanam pohon waru gunung. Namun imbas abrasi masif sejumlah tanaman yang sedianya digunakan sebagai penahan abrasi tumbang. Ia mengaku, saat reses anggota DPRD kabupaten hingga provinsi telah menerima usulan pembangunan tanggul.

“Sudah berganti pemimpin beberapa kali aspirasi warga belum bisa terealisasi terkendala anggaran,” cetusnya.

Imbas abrasi nelayan tangkap tersebut mengalami kerusakan perahu beberapa kali. Perahu kerap tenggelam dan tali tambat tertimbun pasir yang terbawa gelombang ke daratan. Upaya pencegahan abrasi dilakukan nelayan dengan menimbun karung berisi pasir, membuat bronjong kawat dan mengisinya dengan batu.

Solihin, pemilik budi daya kerang menyebut, laju gelombang penyebab abrasi bisa dicegah. Pembuatan tonggak yang diberi ban bekas memiliki fungsi memecah ombak agar tidak sampai ke daratan. Idealnya tonggak terbuat dari beton semen yang memiliki kekuatan. Namun selama ini warga memakai batang pinang, bambu dan kayu.

 “Fungsi tonggak hampir sama dengan break water sehingga ombak sampai ke pantai telah pecah, kekuatannya mengecil,” cetusnya.

Langkah mencegah kerusakan lebih parah disebutnya dilakukan warga secara swadaya. Penanaman sejumlah pohon pencegah abrasi jadi solusi memperlambat gerusan pasir dan tanah.

Kerusakan paling cepat terjadi sebutnya, dipengaruhi oleh kecepatan angin selatan dan timur serta gelombang. Beruntung Pulau Seruling jadi penghalang alami untuk mencegah gelombang.