Yayasan Bening Saguling Foundation bermarkas di Kampung Babakan Pari RT.08 RW.04 Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berhasil meraih penghargaan Kalpataru tahun 2020.

Indra Darmawan (48) pendiri Bening Saguling mengatakan, berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan RI Nomor SK.302/MENLHK/PEG.7/7/2020 Tentang Penghargaan Kalpataru tahun 2020 tanggal 24 Juli 2020, Bening Saguling Foundation berhasil meraih Kalpataru dalam Kategori Penyelamat Lingkungan.

Raihan ini diperoleh karena dedikasi dirinya 19 tahun memulung sampah plastik dan tanaman eceng gondok di aliran sungai Citarum menuju PLTA Saguling dinilai sebagai kelompok masyarakat yang berhasil melakukan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup atau pencegahan kerusakan dan pencemaran (penyelamatan) lingkungan hidup.

“Ada beberapa unsur penilaian yang menjadi nilai tambah kami, selain pelestarian lingkungan disini juga ada sisi pemberdayaan masyarakat dan ekonomi,” ungkap Indra saat ditemui Ayobandung.com, Selasa (15/9/2020).

Indra menuturkan, cerita berawal saat pria kelahiran Bandung 7 Maret 1972 ini melihat berbagai masalah di kampung halamannya tempat Bening Saguling Foundation bermarkas. Kala itu sekira tahun 1998, Indra baru lulus menamatkan beasiswa Strata 1 di jurusan matematika Universitas Padjajaran.

Ia melihat teman sebayanya, warga sekitar bantaran sungai Citarum hidup dalam kemiskinan, sungai yang tadinya bersih tempatnya bermain masa kecil penuh dengan sampah dan tanaman eceng gondok.

Pembangunan waduk Saguling bagi pemerintah mungkin memberi keuntungan besar pada pasokan energi listrik Jawa-Bali. Disisi lain, dampak sosial dan lingkungan menerpa warga sekitar bantaran sungai Citarum.

“Saat itu lahan pertanian warga dibeli pemerintah dan mereka bertransmigrasi, tetapi tidak semua betah dan sukses. Saat kembali, lahan tidak ada dan sungai sudah dalam kondisi memprihatinkan. Bau dan kotor dari tumpukan sampah ditambah eceng gondok,” katanya.

Miris dengan keadaan itu, mulai tahun 2001 Indra bertekad untuk melakukan perubahan di kampung halamannya. Sendiri ia mulai terjun menjadi pemulung, memungut sampah plastik menggunakan sampan dan mengolah eceng gondok jadi bernilai ekonomi.

“2 tahun pertama penghasilan tidak menentu, orang tua dan istri juga tidak berharap saya yang lulusan sarjana memulung,” ucapnya.

Kerja keras dan niat baik Indra perlahan mulai membuka mata warga sekitar, satu demi satu warga mulai mengikuti langkahnya mengumpulkan plastik plastik. Limbah ini kemudian di cacah dan dijual ke pabrik daur ulang, sementara eceng gondok diubahnya menjadi berbagai kriya seperti tas, dompet bahkan atap dan dinding rumah.

“Kurang lebih ada 15 produk kerajinan dari eceng gondok, Harganya di kisaran Rp50-250 ribu. Dengan begitu juga sebulan 4 ton eceng gondok basah terangkat dari sungai Citarum,” katanya.

Untuk mewadahi kegiatan pelestarian lingkungan sekaligus badan usaha warga, tahun 2009 mulai berdiri koperasi pemulung. Disini pemberdayaan warga resmi dimulai, koperasi melakukan pengadaan sampan bagi anggotanya yang mau memulung.

“Sekarang sudah ada 58 warga menjadi binaan, 1 kilogram dibayar Rp1.500, paling sedikit sehari dapat 70 kilogram atau kurang lebih Rp100 ribu. Lebih jauh dari itu, sekarang dalam sebulan 100 ton limbah plastik seperti kaleng minuman, kantong kresek dan kemasan botol diangkat dari sungai Citarum,” ujar pria yang gemar memakai topi pets itu.

Eksistensi Indra dalam pelestarian lingkungan tidak cukup sampai disitu, tahun 2011 yayasan Bening Saguling Foundation mulai terbentuk. Kegiatan sosial beranjak merambah dunia pendidikan, sekolah TK dan SMP berbasis lingkungan mulai beroperasi menjadi ruang belajar bagi anak-anak pemulung.

“Bayar sekolahnya dengan bank sampah, sekarang TK ada 22 siswa dan SMP 15 siswa. Materi pembelajaran juga berwawasan lingkungan,” terang Indra.

Tak puas setelah pemberdayaan ekonomi dan pendidikan warga berjalan, Bening Saguling juga menginisiasi pembentukan Hutan Komunitas, agenda besarnya ialah mengurangi sedimentasi sungai dengan menghijaukan bantaran melalui penanaman pohon keras secara rutin.

“Sekarang kalau di lihat dari citra satelit lingkungan disini tutupan lahannya lebih baik dari tempat lain,” kata dia.

Dedikasi dan kerja keras selama 19 tahun bergelut dengan pelestarian lingkungan mengundang apresiasi berbagai pihak baik didalam negeri maupun luar negeri. Tak terhitung penghargaan didapatnya, langkahnya ini juga menyedot perhatian media luar negeri yang kerap datang meliput kegiatan di Bening Saguling Foundation.

“Tentu saya berterimakasih pada semua pihak atas raihan penghargaan Kalpataru 2020, ini menjadi pemicu kami untuk terus berinovasi menciptakan keseimbangan lingkungan,” katanya.