Empat puluh persen dari spesies badan di dunia dan dua dari lima jenis badak di dunia, berada di Indonesia, yaitu badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus).

Menurut Wahjudi Wardojo, Penasihat senior Menteri LHK dan penasihat senior Yayasan Konservasi Alam Nusantara, hingga saat ini hanya tiga peranan badak bagi Indonesia, yaitu satwa browser – di mana badak memakan semak dan pucuk dedaunan. Pucuk daun yang tumbuh menyerap CO2 lebih banyak ketimbang daun tua.

Kedua, membuka jalur, sehingga memungkinkan sinar matahari mencapai lantai hutan untuk pertumbuhan biji tanaman baru.

Dan ketiga, penebar biji tumbuhan melalui kototran atau tubuh badak.

“Saat ini yang kita tahu hanya tiga peran itu. Ketiga peran itu bisa digantikan oleh yang lain. Karena itu penting bagi kita untuk segera mengetahui peran lain yang dilakukan badak. Jangan sampai kita mengetahuinya, setelah badak habis,” ujar Wahjudi dalam webinar Kagama Goes Green 3: World Rhino Day 2020, (27/9/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur KKH Ditjen KSDAE KLHK, Drh Indra Exploitasia, M.Si, mengungkap bahwa saat ini badak sumatera yang ada di TN Gunung Leuser, TN Way ambas, dan TN Bukit Barisan Selatan jumlahnya kurang dari 100 ekor.

Sedangkan, badak sumatera di wilayah Kalimantan, jumlahnya kurang dari 15 ekor. Sementara badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, populasinya hanya 72 ekor.

Indra juga menyebut ada berbagai ancaman kelestarian badak yang harus dihadapi, seperti berkurangnya luas hutan yang menjadi habitat badak di Sumatera, fragmentasi habitat, gangguan tingginya aktivitas manusia di sekitar habitat, serta banyaknya perusahaan tambang yang berada di sekitar habitat.

Selain itu, informasi morfologi dan status kesehatan reproduksi badak di Kalimantan belum banyak diketahui.

“Untuk di Ujung Kulon proteksinya memang lebih baik, karena ada di taman nasional. Tapi ternyata ancamannya tidak hanya masalah fragmentasi habitat, lebih ke masalah inbreeding,” ujar Indra.

“Ini karena keragaman genetik yang ada di sana terbatas, sehingga membuat badak sulit mencari pasangan yang keragaman genetiknya berbeda,” imbuhnya.

Indra menambahkan, saat ini pihaknya tengah melakukan assesmen uji genetik untuk mengumpulkan badak dengan keragaman genetik berbeda dalam sebuah habitat.

Bukan hanya itu, ancaman lainnya yang ada di Ujung Kulon adalah terbatasnya pakan badak, karena adanya pohon langkap yang memenuhi area pakan badak.

Upaya konservasi badak di Indonesia

Berbagai upaya konservasi untuk menjaga populasi badak telah dilakukan hingga kini, Indra meyakini jika konservasi dilakukan secara intensif, populasi badak bisa terjaga seperti populasi panda di China.

“Proteksi China terhadap panda terbukti berhasil. Panda dulu kurang dari 60 ekor, tapi sekarang populasinya sudah mencapai seribu,” kata Indra.

Saat ini di pengembangan Suaka Rhino Sumatera telah berhasil mendapatkan dua anak badak yang lahir dari induk Ratu dan Andalas, badak Sumatera yang didatangkan dari Cincinnati Zoo, Amerika.

“Ada satu badak lagi yang didatangkan dari Amerika, yaitu badak Harapan, tapi belum berhasil membuahi Ratu, karena masa ovulasi untuk mengeluarkan sel telur yang matang hanya 1×24 jam dan hingga kini kami masih berusaha menyatukan Ratu dan Harapan,” jelas Indra.

Untuk upaya konservasi badak Sumatera di Kalimantan, Indra mengaku harus menetapkan lahan lebih dulu untuk menjadi habitat badak, kemudian baru melakukan identifikasi morfologi dan genetik badak.

“Keragaman genetik badak di Kalimantan cenderung sama, sehingga kita mungkin bisa membuat bayi tabung dengan mengambil ovum dari badak dan dikembangbiakan secara in vitro dengan sperma dari badak Andalas yang sejauh ini sangat baik,” jelasnya.

Sedangkan upaya konservasi badak Jawa di Ujung Kulon, lebih kepada proteksi, pemantauan, dan pencegahan wabah penyakit.

“Sebelumnya ada wabah tripanosomaniasis, yaitu parasit darah yang berasal dari sapi atau kerbau yang digembala di luar kawasan taman nasional. Ini berpotensi menjadi sumber penyakit yang bisa masuk ke dalam kawasan taman nasional,” ujar Indra.

Upaya lain yang telah dilakukan adalah pengendalian tanaman langkap dan melakukan uji analisis genetik DNA badak Jawa untuk membuka habitat kedua, sebagai salah satu solusi yang menjamin keragaman genetik badak Jawa.

“Intinya, upaya kami adalah bagaimana badak yang ada di Indonesia dapat lestari. Tantangan kita ketika badak yang ada di alam tidak mampu bereproduksi, maka butuh campur tangan manusia untuk membantu badak bereproduksi,” pungkas Indra.