Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menawarkan investasi mega proyek Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Cirebon Raya kepada para investor asing. Proyek berkonsep waste to energy tersebut dipresentasikan dalam Indonesia Investment Day 2020 di Hotel Savoy Homan, Kota Bandung, selama dua hari, 29-30 September 2020.

Ketua Tim Percepatan dan Inisiasi Energi Baru, Terbarukan dan Konvervasi Energi (EBTKE) PT Migas Hulu Jabar (MUJ) Mungki Rahadian mengatakan, penggunaan energi fosil tak ramah terhadap lingkungan, sehingga energi alternatif yang lebih bersahabat lebih seksi di mata para investor.

“Investasi yang membawa isu perbaikan lingkungan, dimana kemudian investor asing saat ini sangat tertarik kepada proyek yang sifatnya green energy. Karena investasi terbaik saat ini memang energi terbarukan, sedangkan energi fosil trennya terus menurun dan ditinggalkan dan banyak juga masyarakat yang beralih ke energi alternatif yang lebih ramah terhadap lingkungan,” kata Mungki dalam keterangan resmi PT MUH, Jumat 2 Oktober.

Mungkin mengatakan, untuk nilai investasi megaproyek pengelolaan sampah regional menjadi energi alternatif ini ditaksir mencapai Rp 800 miliar.

“Dari beberapa negara yang ikut dalam Indonesia Investment Day ada dari investor asing seperti UK, Belanda, China, Jepang, Singapore, Korea Selatan dan Australia yang menyatakan minatnya,” lanjut Mungki.

Konsep pengelolaan sampah TPPAS Cirebon Raya dengan teknologi Mechanical and Biological Treatment (MBT) berlokasi di Desa Cupang, Desa Walahar Kecamatan Gempol serta Desa Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon. Luasnya mencapai 52 hektare. Hasil dari pengelolaan sampah yang ditampung dari wilayah Cirebon Raya dan Indramayu nantinya diolah menjadi refuse derived fuel (RDF) yang menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara.

Rencana kapasitas pengolahan yakni 1.000 ton per hari yang dapat ditingkatkan menjadi 1.500 ton per hari. Kapasitas produksi RDF kurang lebih 350 ton per hari. Perusahaan di daerah Cirebon sudah memiliki minat menjadi offtaker bahan baku tersebut salah satunya Indocement.

Mungki mengharapkan dukungan pihak-pihak terkait terutama yang berkaitan dengan regulasi karena hal tersebut yang kerap ditanyakan investor yang akan menanamkan modal di Jawa Barat.

“Investor tidak mungkin bisa masuk ke Indonesia dengan regulasi yang membuat mereka sulit untuk bisa masuk. Maka, itu semua harus kita kelola,” kata Mungki.

Selain regulasi dan dukungan pemerintah, kata Mungki, kesiapan proyek yang ditawarkan pun menjadi indikator penting dalam menarik minat investor, khususnya investor dari luar negeri.

“Jaminan offtaker, siapa yang akan menerima hasil produksi, siapa konsumennya? Ada berapa konsumennya? Berapa harganya ? Dan berapa yang mereka bisa tampung? Dan berapa lama? Dibuat kontrak yang panjang tidak? Itu pertanyaan-pertanyaan kritis yang selalu ditanyakan investor,” ucapnya.

Jika mega proyek ini berjalan sesuai rencana, teknologi sampah menjadi energi ini, ucapnya, bisa menjadi yang pertama di Indonesia dan menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah di banyak wilayah yang memiliki masalah dengan tata kelola sampah.

“Dengan Ini kita sangat siap dan optimis karena kami ingin menjadi salah satu BUMD yang bisa berikan sumbangsih pada Pemprov Jabar karena sampah ini bukan hanya isu Jawa barat tapi Indonesia. Jawa Barat ini jumlah penduduknya terbesar di Indonesia sehingga sampahnya terbesar di Indonesia,

“Apabila ini berhasil di Jawa Barat ini akan membawa provinsi yang juara karena sampah ini akan menjadi energi lain. Keberhasilan ini juga akan membawa prototipe untuk pengelolaan sampah di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Selain TPPAS Cirebon Raya, IID 2020 juga menawarkan proyek lainnya yakni Aerocity Kertajati oleh PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB), Subang Industrial Park, Pariwisata Ciater Raya, Kawasan Walini Raya, Kertajati Industrial Estate Majalengka, Greater Cirebon Solid Waste Treatment Plant, dan Jatigede Regional Water Supply System.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jabar Noneng Komara Nengsih mengaku, optimistis sektor investasi akan mengakselerasi pemulihan ekonomi Jabar.

“PMA ada penurunan sebesar 30 persen, tetapi PMDN meningkat lebih dari 20 persen. Ini memperlihatkan minat investor untuk berinvestasi di Jabar masih tinggi,” kata Noneng Komara dalam pernyataannya yang dirilis Humas Jabar.

Noneng Komara melaporkan, pada semester I 2020, ada sekitar 8.000 pemohon izin untuk berinvestasi di Jabar. Jumlah itu bisa lebih besar apabila diakumulasikan dengan pemerintah kabupaten/kota. Permohonan izin yang tinggi, kata Noneng, memperlihatkan besarnya minat investor untuk menanamkan modalnya di Jabar. Terlebih indeks kepuasan investor berinvestasi di Jabar terus meningkat.

“Kami mendapatkan predikat A atau prima dari kementerian untuk pelayanan investasi. Mudah-mudahan ini dapat membangun kepercayaan investor kepada Jabar,” ucapnya.

“Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar terus bekerja keras untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif,” imbuh Noneng.