Pemenang Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2020 baru saja diumumkan. Ajang pemilihan kader peduli lingkungan hidup yang melibatkan siswa SD sederajat dan SMP sederajat ini rutin digelar setiap tahunnya oleh Tunas Hijau. Tahun ini menjadi tahun terberat penyelenggaraan ajang tersebut mengingat dilakukan di tengah pandemi COVID-19.

Kesuksesan penyelenggaraan Pangeran dan Puteri (Pangput) Lingkungan Hidup 2020 tak lepas dari sosok Mohammad Zamroni, Presiden Tunas Hijau. Pria 41 tahun itu mengakui adanya pandemi telah memporak-porandakan sejumlah agenda Tunas Hijau yang telah disusunnya sejak 2019.

“Alhamdulillah program Pangput tahun ini masih bisa mengumumkan pemenang meski tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Memang hanya program ini yang masih bisa dijalankan di tengah pandemi karena kita memanfaatkan teknologi,” ujar pria yang karib disapa Roni ini, kepada Basra, Rabu (16/9).

Meski harus tertatih-tatih karena banyaknya sponsor yang mundur sebagai imbas pandemi, namun Roni tak patah semangat. Bagi Roni, program Pangput harus tetap dilaksanakan sebagai bentuk penghargaan kepada siswa-siswi yang telah mendedikasikan dirinya untuk lingkungan hidup.

Bagi Roni sendiri, berkecimpung sebagai aktivis lingkungan hidup bukanlah hal baru. Melalui Tunas Hijau, ia telah mengabdikan separuh hidupnya demi kelestarian lingkungan hidup. 

Tahun ini Tunas Hijau genap berusia 21 tahun. Organisasi ini fokus mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan. Selama 21 tahun pula Roni telah berkeliling ke lebih dari 1.000 sekolah dasar dan menengah pertama di Surabaya. Tanpa lelah ia mengajak siswa untuk menjaga kebersihan lingkungan. Ajakan dilakukan melalui lokakarya dan aksi nyata.

“Kami juga bekerja sama dengan sekolah, salah satunya dengan membangun kantin bebas sampah, terutama sampah plastik,” tukas penerima penghargaan Long Life Achievement dari Millennium Kids Australia 2013 ini.

Roni bersama Tunas Hijau menyesuaikan cara mengedukasi anak sekolah agar apa yang disampaikan lebih mengena, termasuk memanfaatkan media sosial.

“Awalnya, kami tergerak untuk memberikan penyadaran agar tidak buang sampah sembarangan, kurangi penggunaan botol minuman plastik sekali pakai. Namun seiring berjalannya waktu dan kian berkembangnya isu terkait lingkungan hidup, kami selalu berusaha semaksimal mungkin,” jelasnya.

Atas dedikasinya terhadap lingkungan hidup, berbagai penghargaan bergengsi dari kancah internasional berhasil diraih pria kelahiran Surabaya, 3 Mei 1978 ini. Diantaranya, International Visitor Leadership Program USA 2008 dari State Department of US, International Visitor Leadership Program USA Gold Star 2011 dari State Department of US, dan Miranda Award 2002 dari Millennium Kids Australia 2002.

Menginjak usia 21 tahun organisasi Tunas Hijau, Roni berharap dapat mewujudkan mimpinya untuk memiliki kantor yang tak lagi harus berpindah-pindah.

“Selama ini kita masih ngontrak, kalau kontrakannya habis ya harus pindah, cari tempat baru lagi. Semoga nanti bisa dapat tempat yang enggak perlu pindah-pindah lagi, agar kita bisa makin fokus,” simpulnya.