Kawasan Tambak Rejo lebih dikenal dengan kampung nelayan ini akan memiliki surga kecil yang ramah terhadap lingkungan.

Tambak Rejo memang dipandang daerah yang tidak mungkin menjadi kawasan wisata. Selain terjadi abrasi atau penurunan tanah dari permukaan air laut, kawasan tersebut sering terjadi banjir air rob setiap tahunnya.

Perlu terobosan dan dukungan yang besar untuk membangun kawasan tersebut menjadi pusat wisata bahari. Tidak hanya dari dukungan pemerintah, tapi juga masyarakat sekitar harus disadarkan untuk peduli dengan lingkungannya.

Maka dibentuklah Kelompok Peduli Lingkungan CAMAR. Kelompok tersebut menjadi pelopor untuk membangun kawasan Tambak Rejo, RT 04, RW XVI, Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang menjadi lebih baik.

Ditangan Juraimi, Ketua CAMAR Tambak Rejo, pembangunan lebih dari menjaga lingkungan. Terdapat pemberdayaan masyarakat, Infrastruktur, kesehatan, hingga pendidikan. 

“Yang utama adalah ekonomi. Bisa membantu perekonomian masyarakat di sini, misal kita butuh mesin giling, yang terakhir program lingkungan,” katanya saat ditemui Suara.com.

Juraimi, Ketua CAMAR Tambak Rejo, Kota Semarang – Foto: Budi Arista Romadhoni/Suara Jateng

Namun yang menjadi konsentrasi CAMAR saat ini adalah lingkungan. Sebab, keadaan alam di kawasan tambak rejo kian memburuk setiap tahunnya.

Ia menceritakan sejak tahun 2000 abrasi di daerah pesisir utara semakin parah. Menurutnya, jika tidak ada solusi maka kawasan tempat tinggalnya itu bisa tenggelam lebih cepat.

“Terjadi abrasi yang fatal, padahal tahun 1993an kita mau ke bibir pantai aja butuh jarak 1 km, tahun 2000 buka pintu belakang sudah air laut. Kalau dari ilmunya akademisi, setiap tahun tanah kita ini turun 20 cm. Nanti di sini bisa tenggelam. Jadi kalau bangun rumah disini pondasi harus diatas 50 meter,” ucapnya.

Maka dari itu, ia dan para anggota Kelompok Peduli Lingkungan CAMAR melakukan penghijauan besar-besaran. Dengan menanam pohon mangrove sebanyak-banyaknya, berharap bisa menjadi langkah pencegahan terjadinya abrasi.

“Program lingkungan itu juga mendukung pemerintah kota, yaitu go green. Penghijauan dilakukan khususnya mangrove, karena kita di pesisir,” ujarnya.

Juraimi mengaku, sejak tahun 2010, pihaknya sudah menghijuakan bibir pantai dengan menanam 110.000 pohon magrove. Hal itu dilakukan demi menjaga tempat kelahirannya tidak tenggelam menjadi lautan.

“Yang kita tanami panjangnya sekitar 1 km, dari situ kita bisa menyelamatkan lahan dan lingkungan kita,” ujarnya.

Selama hampir 10 tahun, dampak dari program tersebut mulai kelihatan. Meski abrasi dan banjir rob masih terjadi, namun udara di kawasan tersebut semakin bersih. 

“Dampak penghijauan mangrove ini, baru sekedar udara, di sini udara sdh semakin membaik, kalau abrasi memang tidak bisa 100 persen menanggulangi, tapi kita bisa memperlambat terjadinya abrasi,” ujarnya.

Jogging track di kawasan hutan mangrove Tambak Rejo, Kota Semarang – Foto: Budi Arista Romadhoni/Suara Jateng

Program Edu Park

Selain itu, hutan mangrove yang telah ditanam saat ini juga sedang dibangun menjadi lokasi wisata edu park. Harapannya, kawasan tersebut bisa menjadi ladang pendapatan masyarakat tambak rejo.

“Dari mangrove juga bisa menjadi pendapatan warga sekitar kita. Karena kepiting juga hidup, nantinya ada wisata juga,” ucapnya.

Juraimi mengaku, program penanaman pohon mangrove didukung banyak pihak. Mulai dari akademisi hingga perusahaan setingkat BUMN.

“Dari 2010 sampai sekarang 100 persen Pertamina membantu semuanya itu. Ini adalah program Pertamina, seperti memberikan perahu, sekretariat, dan transportasi. Intinya tambak rejo menjadi desa binaan Pertamina,” ujarnya.

Ia mengatakan di kawasan hutan mangrove tersebut saat ini baru proses dibangun jogging track sepanjang 225 meter. Jooging track diharapkan dapat menjadi lokasi wisata wisata andalan di tambak rejo.

“Apalagi nanti di tambak lorok juga menjadi wisata bahari. Pasti ekonomi kita juga akan terangkat, dan tidak melulu mengandalkan hasil laut,” katanya.

Kemudian untuk mendukung kampanye mencintai lingkungan, CAMAR sudah menyiapkan 3000 bibit mangrove. Nantinya, wisatawan yang datang wajib menanam mangrove sebagai bentuk peduli dengan lingkungan pesisir.

“Nanti kita mau buat paket wisata, semua yang berwisata dapat pelayanan gratis diantar ke lokasi mangrove. Namun setiap wisatawan wajib beli bibit mangrove dan ditanam sendiri di sana. Jadi kita berikan edukasi menjaga lingkungan pesisir,” ucapnya.

Kelompok Peduli Lingkungan CAMAR menyiapkan bibit mangrove di Tambak Rejo, Kota Semarang – Foto: Budi Arista Romadhoni/Suara Jateng

Sementara itu, Community Development Officer ITS Pertamina MOR IV Semarang, Aryo Aji Asmoro yang menjadi pendamping Kelompok Peduli Lingkungan CAMAR berharap program CSR Pertamina bisa bermanfaat dan meningkatkan ekonomi para nelayan.

“Semoga dari CSR pertamina khususnya edu park ini bisa mejadi kebanggaan masyarakat tambak rejo,” kata Aryo.