Tim Abdi Karya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menciptakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk laundry berbasis reuse, recycle, dan recovery (3R).

Ketua Tim Abdi Karya, Cindy Synthia Putri mengatakan, mayoritas usaha laundry saat ini tidak memiliki IPAL. Limbah air dari laundry mereka ini selalu dibuang asal-asalan tanpa diolah terlebih dulu.

“Limbah ini sebenarnya mengandung ragam zat berbahaya. Kandungan ini berasal dari campuran deterjen dan kotoran pada pakaian yang menyatu,” beber Cindy dalam keterangan resminya, Selasa (13/10).

Ia menambahkan, zat berbahaya dari limbah tersebut di antaranya Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), dan fosfat.

Cindy menjabarkan, nilai BOD dan COD yang tinggi yang menyebabkan defisit oksigen yang larut di air. Sementara itu, TSS akan mengeruhkan air dan mampu menolak cahaya matahari masuk.

“Untuk fosfat, mampu mendegradasi kehidupan biota air dan meningkatkan unsur hara,” ungkapnya.

Ketua Tim Abdi Karya Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Cindy Synthia Putri – Foto: Doc-ist

Bagi Cindy, USK laundry memerlukan unit pengolahan yang bisa mengurangi risiko pencemaran lingkungan tersebut. Untuk itu, desain IPAL ini bersifat portabel. Selain itu, IPAL berukuran sesuai kesediaan ruangan laundry skala kecil, sehingga tak memakan banyak tempat.

“Limbah keluaran dari alat ini akan ditampung dahulu pada bak pengumpul. Lalu limbah akan disaring menggunakan pasir kali melalui proses filter biosand. Dan air olahan akan melalui dua kali proses adsorpsi karbon aktif menggunakan adsorben tempurung kelapa. Terakhir, limbah yang selesai diolah ini menjadi bersih dan bisa dikumpulkan ke dalam tandon air,” beber Cindy.

Menurut Cindy, IPAL rancangan mereka semakin unggul berkat penerapan 3R. Prinsip recycle terlihat pada air olahannya yang dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman hidroponik, mencuci kendaraan, serta dapat dialirkan ulang ke unit pengolahan lagi.

Selain itu, pasir kali yang mulai kotor akibat proses filter dapat digunakan kembali (reuse) setelah dicuci dengan air bersih. Sementara, adsorben jenuh yang dihasilkan dapat dimanfaatkan (recovery) sebagai pupuk.

Tim Abdi Karya ITS selain Cindy, di antaranya Nabila Putri R, Nandalita Alifia, dan Oktsyavitto Adhitya dari Departemen Teknik Lingkungan. Berikut juga Vaneti Kyash L dan Wahid Ramadhan S dari Departemen Arsitektur. Kemudian Ifarrel Rachmanda H, mahasiswa Departemen Teknik Sipil.

“Kami bertujuh berhasil mengolaborasikan ide menjadi rancangan nyata,” ucap Cindy.

IPAL rancangan tim Abdi Karya ITS ini menyabet juara utama kategori USK Laundry dan Batik dalam lomba Desain Inovasi IPAL 2020, pada 18 September lalu. Pada kompetisi yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini, Abdi Karya berhasil mengungguli 68 tim lain dari perguruan tinggi nasional dan luar negeri.

Ke depannya, tim bimbingan Arseto Yekti Bagastyo ST MT MPhil, Welly Herumurti ST MSc, dan Ervin Nurhayati ST MT PhD ini berharap, rancangan mereka tak sekadar tuntas di perlombaan saja, nakun bisa diimplementasikan secara umum.

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk laundry berbasis reuse, recycle, dan recovery (3R) nampak dari dalam – Foto: MP/ITS