Untuk menikmati terbitnya sang surya, pantai merupakan salah satu tempat yang cocok untuk menyaksikannya. Tidak hanya itu, pantai merupakan lokasi yang tepat digunakan untuk kemah atau camping. Seperti yang dilakukan Ahmad Muqadam.

Bersama lima kawannya pemuda 18 tahun tersebut ingin menikmati suasana malam di pantai dengan mendirikan tenda di pantai Joko Mursodo, di Desa Lohgung, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Baru-baru ini pantai yang dekat dengan jalan Deandeles di Pesisir Pantai Utara (Pantura) Lamongan ini sukses dan viral di kalangan anak-anak muda Lamongan dan sekitarnya.

Melalui media sosial foto-foto dari wisatawan mampu membujuk publik penasaran, termasuk juga Adam, panggilan akrabnya. Bagi dia, pantai Joko Mursodo menjadi pilihan untuk berkemah karena suasana pantai ini tenang, deburan ombaknya tidak keras.

Selain itu, pantai ini juga menarik karena hamparan pasirnya yang lembut dan masih terlihat alami. Sehingga bagus digunakan untuk spot foto-foto.

“Adanya pohon bakau yang tumbang juga menjadi daya tarik tersendiri. Bisa digunakan untuk duduk santai sambil menikmati kopi dan merasakan pasir putih yang lembut dan birunya pantai yang begitu memanjakan mata dan hati,” ujar pria penghobi fotografi ini, Jum’at (02/10/2020).

Dengan begitu dia berharap kealamian pantai ini tetap dijaga. Selain itu kebersihannya perlu diperhatikan. Kurangnya fasilitas seperti toilet dan tempat ibadah menurutnya juga perlu ditambahkan.

Digunakan Terapi

Pengunjung lain, Masroin, punya kesan berbeda di pantai Joko Mursodo ini. Bersama keluarganya, pria 39 tahun ini sedang terapi mandi di pantai. Dia menjelaskan, dipilihnya pantai Joko Mursodo sebagai tempat terapi karena pantai ini airnya relatif tenang. Sehingga lebih aman saat melakukan terapi.

Menurut dia, daripada di kolam renang, terapi di pantai memiliki kesan tersendiri. Selain karena udaranya lebih segar juga bisa menikmati pemandangan alam.

“Syaraf saya awalnya kejepit. Karena sering terapi di pantai otot-otot akhirnya bisa kembali lagi. Alhamdulillah, ada perubahan,” ujarnya. Masroin mengaku, daripada ke dokter terapi secara tradisional di pantai yang diajarkan turun-temurun ini dirasa lebih efektif dan tidak membutuhkan banyak biaya.

Pantai Joko Mursodo sebetulnya bukan pantai baru, keberadaanya sudah ada sejak lama. Namun, pantai ini diberi nama dan dikelola oleh masyarakat setempat baru awal tahun 2020 ini. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Mohamad Zain Nur Shohab (31) menjelaskan, pantai ini menjadi viral lantaran beberapa anak muda yang datang lalu memposting di sosial media.

Sehingga semakin banyak yang berkunjung, pada akhirnya sekelompok pemuda yang tergabung dalam organisasi karang taruna berinisiatif untuk mengelola.

Dulu, kata Zain, sapaan akrabnya, pantai ini sebelumnya merupakan kawasan hutan bakau. Namun, semenjak ada pembukaan tambak untuk ikan kerapu akhirnya sebagian pohon bakau di tebangi oleh penyewa lahan. Untuk itu, sebagian pohon bakau masih ada yang terlihat bertumbangan.

“Dengan begitu lahan wisata menjadi luas. Beruntungnya pohon bakau tidak di babat habis karena ada kelompok pengawas masyarakat yang mengontrol,” ujarnya. Sehingga yang tersisa ini masih bisa dijadikan untuk lokasi foto-foto. Yang paling penting pula bisa menahan pasir pantai ini agar tidak terimbas abrasi.

Lanjut Zain, setelah peristiwa itu alhasil masyarakat sekitar lebih memperdulikan keberadaan pantai ini. Sehingga beberapa kelompok pemuda berinisiatif untuk mengelola. Seiring berjalannya waktu pengunjung yang datang semakin bertambah. Dirasa semakin berkembang, pihak Desa setempat kemudian membentuk pengurus pengelola wisata ini dengan keterlibatan beberapa elemen organisasi masyarakat.

Berdayakan Warga Lokal

Lokasi pantai Joko Mursodo tidak jauh dari pantai Kutang Lamongan, tempatnya masih berada di sepanjang jalan Pantura Tuban-Gresik. Ada pada jarak 1,2 km arah utara jalan raya Pantura. Dari jalan raya, pantai ini tidak terlihat. Karena lokasinya yang dikelilingi tambak ikan. Belum ada tarif khusus untuk masuk ke pantai ini. pengunjung hanya dikenakan biaya parkir Rp2 ribu untuk kendaraan roda dua, sementara mobil Rp10 ribu.

Untuk fasilitas, kata Zain, saat ini pengelola masih mengejar untuk pembuatan toilet dan musholla. Sementara, untuk warung-warung semi permanen yang berada di pantai ini semua penjualnya harus warga desa setempat. Supaya perekonomiannya bisa terbantu. Begitu juga para pengelolanya. Kurang lebih ada 30 orang yang terlibat. Hanya untuk saat ini sifatnya masih gotong-royong. Setiap hari Jum’at diadakan kerja bakti bersih-bersih. “Ke depan, ini juga kami pikirkan untuk bagaimana pendapatan dari sini bisa untuk menggaji para pengelola ini,” imbuhnya.

Karso (45), salah satu pedagang makanan merasa senang dengan adanya wisata pantai ini. Sebab perekonomiannya bisa terbantu. Dari hasil jualannya, saat weekend paling tidak bisa mendapatkan untung Rp100 ribu.

Konon, nama pantai ini sendiri tercipta dari sejarah yang diceritakan turun-temurun tentang seorang pemuda bernama Joko Mursodo. Semenjak kecil dia dibuang di pinggir pantai dan ditemukan oleh sepasang suami istri. Singkat cerita, ketika dewasa Mursodo yang mempunyai kegemaran memancing.

Saat menunggu, ikan besar menarik kailnya dan ditariknya dengan sekuat tenaga. Petilasan tempat dia memancing ini diabadikan oleh warga setempat sampai sekarang. Dan masyarakat menyebutnya dengan sebutan gerit (makam gerit), yang berasal dari sebutan menggeret yang berarti menarik.