Dinda Hirana Faresky (20) berhasil mendaur ulang serbuk kayu yang dihasilkan oleh para pengrajin mebel.

Dirinya menyulap limbah mebel tersebut menjadi aksesoris cantik.

“Jadi saat saya di Mojokerto melihat begitu banyak limbah serbuk kayu dari mabel-mabel, dari sanalah terpikirkan untuk memanfaatkan untuk membuat aksesoris anting agar dapat mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan,” kata Dinda, ditemuin awak TribunJatim.com di Delta Gardenia 3 nomor 25, Deltasari Baru, Waru, Sidoarjo, Kamis (1/10/2020).

Dirinya pun menunjukkan proses produksi limbah mebel menjadi aksesoris.

Sebelum memulai proses produksi, Dinda mengambar beberapa desain aksesoris berupa anting-anting yang pada sebuah kertas.

Kemudian Mahasiswi Fashion Product Design And Business Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini menyiapkan Epoxy Resin, serbuk kayu, dan lem sebagai bahan utama dalam pembuatan.

“Alasan kenapa saya memilih bahan Resin jenis Epoxy ini karena saya ingin membuat anting yang berkualitas serta terlihat clear. Karena apabila pakai resin yang harganya lebih murah warnanya cepat berubah menjadi kekuningan gitu,” ujar perempuan kelahiran Malang, 17 Maret 2000 ini.

Proses pembuataannya, pertama Dinda mengambil limbah kayunya terlebih dahulu.

“Serbuk kayu yang dari pengrajin mebel tersebut dikirim teman saya dari Mojokerto ke sini,” ungkapnya.

Kedua, serbuk kayu diayak sampai halus.

“Jadi serbuk kayu itu kan masih kotor dan penuh paku dan printilan-printilan lainnya jadi harus ayak dulu dan dipilah,” ujarnya.

Ketiga, serbuk kayu diberi pewarna, dalam proses ini Dinda lebih memilih menggunakan pewarna makanan karena dianggap lebih dapat diserap oleh serbuk kayu.

Selanjutnyan dikeringkan dengan dijemur diatas sinar matahari selama satu hari.

Keempat, setelah kering serbuk kayu dicetak kedalam resin dengan bentuk yang sesuai pola yang sudah di gambar desain yang di inginkan.

“Saya mengunakan stik kayu buatan ayahnya untuk meratakan serta membentuk pola serbuk kayu di dalam resin agar rapat, yang mana sebelumnya resin dilumuri lem terlebih dahulu kemudian dikeringkan sampai padet kira-kira seharian lagi dan yang terakhir cetakannya ditutup dengan resin,” katanya.

Sebelum berhasil, Dinda mengalami kegagalan berkali-kali dalam melakukan percobaan hingga berhasil setelah 3 kali percobaan.

“Awalnya jelek banget, karena tidak tau takaran, resin ini kadang keras, kadang lembek, kadang gagal, aku butuh berkali-kali experimen untuk mengetahui takaran yang pas,” ungkapnya.

Dengan hasil aksesoris anting yang ini, Dinda berharap orang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar yang penuh dengan limbah.

“Dengan orang-orang tau accesories anting ini, meski hanya melihat, menggunakan, atau bahkan ikut memproduksi limbah serbuk kayu ini, semoga nantinya orang-orang akan semakin peduli dengan lingkungannya,” pungkasnya.