Sampah organik sampai saat ini dirasa masih menjadi masalah besar dalam lingkungan. Perhatian serius dari seluruh pihak ABCG (Academic / akademika, Business / pengusaha, Community / masyarakat, dan Goverment / pemerintah) sangat diperlukan secara komprehensif agar sampah organik dapat dirombak menjadi barang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan. Sampah yang telah berubah bentuk dan fungsi menjadi kompos memberikan banyak manfaat berupa peningkatkan kesuburan tanah; memperbaiki struktur dan karakteristik tanah; meningkatkan kapasitas penyerapan air; meningkatkan aktivitas mikroba tanah; meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen); menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman; menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman; serta meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah.

Dalam perspektif kehutanan dan pertanian yang berafiliasi dalam bentuk agroforestri (tanaman campur), pemanfaatan kompos memberikan gairah baru dalam pengelolaan lahan yang arif dan bijaksana. Larangan membuka dan membersihkan lahan dengan cara membakar mendorong pengelolaan lahan yang lebih ramah lingkungan. Pola selama ini dengan membakar semak dan sampah pada lahan nyatanya telah merusak lingkungan dan ekosistem global berupa kebakaran hutan dalam skala luas, hilangnya flora dan fauna, polusi udara, habisnya mikroorganisme tanah, polusi air, dan dampak ikutan dalam seluruh aspek kehidupan. Membakar yang dirasa cepat, murah dan mudah, malah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Greenpeace Indonesia mencatat bahwa kebakaran Januari – Agustus 2019 menghanguskan 328.724 ha hutan dan lahan. Mundur sedikit ke belakang, Bank Dunia memperkirakan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia di tahun 2015 menelan biaya setidaknya Rp 221 triliun. Penegakan kembali larangan membakar hutan dan lahan sebagaimana yang tertuang dalam UU No. 41 Tahun 1999 pasal 5; revisi UU 32 Tahun 2009 yang diturunkan dalam Perda masing – masing daerah seharusnya menyadarkan kita untuk kembali membumi, melakukan pendekatan lingkungan dalam pengelolaan ekosistem.

Dalam mengkampanyekan pembuatan kompos, Jurusan Kehutanan Universitas Jambi melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Desa Sungai Gelam. Mitra diberikan penyuluhan terkait teknik pembuatan kompos dan mitra diajak untuk mengolah semak belukar menjadi kompos yang akan digunakan menambah unsur hara pada tanaman budidayanya. Membakar tidak memberikan unsur hara siginifikan pada tanah, selain abu bakaran. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala dan staff KPHP Unit XIII, dan Anggota Kelompok Tani Multi Usaha Mandiri.

Tim Pengabdian ini terdiri dari : Ir. Rike Puspitasari Tamin, S.Hut., M.Si., IPM; Ir. Fazriyas, M.Si., IPU; Dr. Ir. Hamzah, M.Si., IPM; Ir. Albayudi, S.Hut., M.Si., IPM serta menghadirkan pakar ahli dalam pembuatan kompos yaitu Richard Robintang Parulian Napitupulu, S.Hut., M.Sc.

Hasil pengomposan diharapkan dapat diaplikasikan langsung ke lahan budidaya masyarakat untuk menekan penggunaan pupuk sintetis yang cenderung merusak tekstur dan struktur tanah. Pemberian kompos alami pada tanah yang berkesinambungan secara perlahan akan memulihkan senyum bumi dan produktifitasnya, menghasilkan produk pangan alami, sehingga tercipta daya dukung kehidupan manusia yang bermartabat dan berkelanjutan.