Penyelamatan badak sumatera di Kalimantan Timur tetap dilakukan mengacu Rencana Aksi Darurat [RAD] Badak Sumatera yang ditetapkan Dirjen KSDAE, pada 6 Desember 2018.

Langkah penting yang telah dilakukan untuk penyelamatan badak sumatera di Kalimantan Timur adalah pembangunan Suaka Badak Kelian dan survei habitat badak di Kutai Barat dan Mahakam Ulu.

Badak sumatera bernama Pari yang berada di hutan belantara Kalimantan Timur, kini menjadi prioritas utama untuk diselamatkan. Nantinya, dia akan menemani badak Pahu yang sudah lebih dulu menghuni Suaka Badak Kelian.

Ancaman nyata kehidupan badak sumatera di Kalimantan adalah tingginya aktivitas manusia di sekitar habitat, serta habitat badak yang dikelilingi HPH dan perusahaan tambang.

Penyelamatan badak sumatera di Kalimantan Timur [Kaltim] terus dilakukan. Aksi ini merupakan wujud pelaksanaan Rencana Aksi Darurat [RAD] Badak Sumatera yang ditetapkan Dirjen KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK] Nomor: SK.421/KSDAE/SET/KSA.2/12/2018, pada 6 Desember 2018.

Terhadap RAD Badak Sumatera di Kalimantan Timur, langkah penting yang telah dilakukan adalah pembangunan Suaka Badak Kelian di Kutai Barat. Selain itu, survei habitat badak di Kutai Barat dan Mahakam Ulu tengah dijalankan.

Kepala BKSDA Kaltim, Sunandar Trigunajasa mengatakan, RAD merupakan harapan besar masyarakat Kalimantan Timur untuk melestarikan badak sumatera yang ada.

“Badak Pari yang tengah dipantau saat ini memang betina, nantinya akan menemani badak Pahu yang sudah lebih dulu menghuni Suaka Badak Kelian. Semoga, kedua badak betina ini menghasilkan keturunan,” terangnya, baru-baru ini.

Sunandar menjelaskan, walau belum dievakuasi ke Suaka Badak Kelian, Pari terus dipantau intensif. Dibantu Alert, sebagai mitra dan tim lapangan yang profesional, perkembangan Pari selalu diperhatikan.

“Tim lapangan sudah berpengalaman, sebagaimana memonitoring badak Pahu dulu,” jelasnya.

Persiapan matang untuk evakuasi penyelamatan Pari terus dilakukan. BKSDA juga berharap, ada badak jantan yang nantinya tertangkap dan bisa menjadi pasangan Pahu atau Pari di Suaka Badak Kelian.

“Ada informasi dari masyarakat lokal yang melihat badak bertubuh agak besar di Kutai Barat, selain Pari. Tapi hingga saat ini, belum dapat dibuktikan, mudah-mudahan segera ada kabar baik,” ujarnya.

Sebagai informasi, badak Pahu telah menghuni Suaka Badak Kelian sejak Maret 2019. Sementara Pari adalah badak sumatera yang menjadi prioritas utama untuk diselamatkan, yang nantinya bakal menemani Pahu.

Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia [YABI], Widodo Ramono mengatakan, saat ini masih banyak masyarakat yang tidak memahami bagaimana sulitnya badak sumatera bertahaan hidup. Keputusan KLHK melalui RAD adalah untuk menggenjot kelahiran badak-badak baru, yang tentu saja tidak selalu lancar prosesnya.

“Sesungguhnya, tak banyak yang memahami nasib badak satu ini. Betapa susahnya mereka mempertahankan kehidupannya, yang terpisah dan soliter,” katanya.

Terkait upaya penyelamatan Pari, Widodo menuturkan, semua pihak yang terlibat harus aktif memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa penyelamatan badak sumatera tidak bisa ditunda.

“Penyuluhan mendalam perlu dilakukan. Tujuannya, agar proses evakuasi berjalan lancar dan sosialisasi di masyarakat tentang ancaman kepunahan badak sumatera di Kaltim dapat dipahami bersama.”

Dijelaskan Widodo, RAD harus segera dilakukan karena ada target waktunya hingga 2021. Jika hingga waktu yang ditentukan, badak sumatera di Kaltim belum ditemukan yang jantan, harus ada strategi lain yang dijalankan.

“Sepanjang ini, kita masih berpegang pada RAD. Sudah ada juga gagasan pengembangan Assited Reproductive Technology agar populasi badak bertambah dengan keragaman genetik yang variatif,” jelasnya

Ditanya apakah Kaltim sudah mendeteksi badak jantan melalui kamera jebak, Widodo mengatakan, sejauh ini belum ada. Namun, beberapa informasi dari tim lapangan menyebut ada badak lain. “Masih dipantau wilayah Mahakam Ulu,” ungkapnya.

YABI menegaskan, badak sumatera di Kaltim harus segera diselamatkan. Adanya perburuan, perilaku reproduksi yang tidak mudah, dan rusaknya habitatnya adalah faktor utama yang mengancam kepunahan badak sumatera.

“Badak yang ada harus diselamatkan ke tempat aman, lalu conservation breeding dilakukan untuk menghasilkan anak badak [walau tidak mudah] yang nantinya diintroduksi kembali ke habitat yang aman,” tegasnya.

Sebelumnya, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati [KKH], Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK], Indra Exploitasia, pada webinar “Status Konservasi Badak di Indonesia” Jumat, 3 Juli 2020 menjelaskan, KLHK terus mengawasi keberadaan badak Pari di Mahakam Ulu. Nama Pari diberikan sesuai tempat ia ditemukan.

Indra menambahkan, ancaman nyata kehidupan badak sumatera di Kalimantan adalah tingginya aktivitas manusia di sekitar habitat. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena habitat dikelilingi HPH dan perusahaan tambang.

“Informasi morfologi, biologi serta status kesehatan reproduksi badak di Kalimantan juga belum banyak diketahui. Pastinya, Pemerintah Indonesia berkomitmen menyelamatkan seluruh badak sumatera,” katanya.