Profesor Jatna Supriatna adalah peneliti dan dosen biologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia yang sudah berkecimpung dalam bidang ini selama 42 tahun dan kecintaannya pada alam bukan sekedar slogan, tapi juga tindakan.

Profesor Jatna sangat aktif berkecimpung di dunia riset dan penelitiannya banyak mendapat pengakuan dari kalangan akademisi di tingkat global.

Juli lalu, Profesor Jatna baru merilis risetnya untuk jurnal lingkungan internasional Global Ecology and Conservation_ tentang laju deforestasi di Pulau Sulawesi yang mengancam habitat primata endemik kawasan itu.

Dari riset ini, perkebunan kelapa sawit jadi salah satu pihak yang bertanggung jawab terhadap kencangnya laju deforestasi.

“Kita menyadari bahwa kita ini tinggal di negara yang kaya akan keanekaragaman hayati sehingga tidak merasa ingin mencari tahu kekayaan itu dan memanfaatkannya dengan bertanggung jawab. Kita seperti dilanda environmental curse [kutukan sumber daya lingkungan],” kata Profesor Jatna merujuk pada Indonesia yang semakin tidak peduli dan bertindak eksploitatif pada kekayaan alam yang dimilikinya.

Karena dedikasinya pada alam dan keanekaragaman hayati, namanya pun sering kali disematkan sebagai nama spesies temuan baru pada hewan Tarsius, seperti Tarsius Supriatnai, Draco supriatnai yang berasal dari Kepulauan Togian, Sulawesi (2007) dan Cyrtodactylus jatnai yang merupakan reptil endemik di daerah Bali sebelah barat.

Lebih lanjut, paling tidak ada tiga kelompok hewan [takson] yang ditemukan Profesor Jatna, yaitu tokek Gekko iskandari (2000), Tarius tumpara (2008) dan jenis ular Rabdion grovesi (2015) yang hanya ada di wilayah Sulawesi.

Atas semua dedikasinya untuk alam ia meraih berbagai penghargaan. Mulai dari Officer of the Most Excellence Order of Golden Ark dari Kerajaan Belanda pada 1999 dan Habibie Award pada 2008.

Profesor Jatna juga mendapatkan penganugerahan Lifetime Achievement Award and Leadership on Biodiversity Conservation, penghargaan perlindungan keanekaragamaman hayati di Bali pada 2017 dari Organisasi Konservasi Internasional.

Manis-pahit dedikasi

Di kalangan peneliti, Jatna ibarat seorang begawan. Sejak 1975, ia mendedikasikan diri menyusuri pedalaman dan hutan nusantara. Hampir seluruh hutan di Indonesia sudah dijelajahinya, tidak dalam waktu singkat namun bisa berbilang bulan, bahkan tahun.

“Menyenangkan sekali ya kalau sudah masuk hutan, kalau kembali ke kota itu malah jadi bingung. Karena kalau di hutan kan aman saja,” kata Jatna.

Tentu saja banyak sekali momen tak terlupakan, dari terjangkit malaria dan merayakan Lebaran di rumah sakit karena malaria di Kalimantan Tengah. Di Papua, dia juga terkena malaria.

“Jenisnya macam-macam pula itu. Tapi itu risiko ya, keluar masuk hutan atau kerja peneliti,” ujar Jatna.

Dalam perjalanannya, berinteraksi dengan suku-suku asli yang tinggal di pedalaman juga bukan hal baru, itu adalah bagian dari kerinduannya menjelajah daerah yang jauh, belum tersentuh pembangunan.

Dia jatuh cinta dengan Mentawai yang adatnya kental dengan narasi menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dengan cara mereka.

Profesor Jatna Supriatna ketika dalam salah satu ekspedisinya di Flores, Nusa Tenggara Timur.

“Mereka itu kalau menebang satu pohon, harus menanam dua pohon sebagai gantinya. Lalu mereka juga memanah monyet, nah dulu asumsinya kan oleh peneliti Barat kalau terus-terusan seperti ini, lama-lama monyet akan punah. Setelah kita teliti, ternyata tidak mungkin karena buat suku asli, berburu itu ada masanya, alatnya pun hanya panah,” tutur Jatna.

“Dan kalau kita lihat tengkorak-tengkorak yang dipajang rumah adat mereka, sebenarnya itu monyet-monyet yang sudah tua. Jadi ada kearifan lokal yang secara turun-temurun bahwa sebenarnya mereka meremajakan primata itu.”

Hampir di setiap perjalanannya, Jatna menangkap dan mempelajari secara utuh kekayaan ragam hayati, budaya dan manusia yang ada di dalamnya. Meski demikian, bahasa bukan kendala.

“Rata-rata mereka bisa berbahasa Indonesia walaupun patah-patah. Kalau tidak, kita pakai bahasa isyarat.”

Menyenangi, jadi ‘kebablasan’

Lahir di Bali pada 7 September 1951, Jatna menghabiskan masa kecilnya berpindah-pindah kota karena mengikuti orangtua. Sejak usia dini dia sudah melihat banyak bahasa, budaya dan orang dengan berbagai keunikannya.

“Saya anak tentara, jadi kami sering berpindah-pindah. Lahir di Bali, lalu ke Lombok, Sulawesi sampai SD [Sekolah Dasar], di Jawa Barat di Banjar perbatasan waktu SMP [Sekolah Menengah Pertama], lalu SMA [Sekolah Menengah Atas] di Tasikmalaya. Hidup saya menarik.”

Orang tuanya mengenalkan Jatna – dan kesepuluh saudaranya – pada banyak kegiatan luar ruang seperti berkemah, menelusuri kawasan hutan, juga bermain ke pantai.

“Waktu SMA kita naik gunung Galunggung di Tasik[malaya]. Ayah saya kebetulan punya kebun di gunung itu. Saya jadi menyenangi alam, akhirnya jadi kebablasan,” kata Jatna.

Selain ayahnya, ternyata Karl May adalah sosok yang berpengaruh besar dalam pilihan hidup Jatna. Lewat tokoh rekaannya, Old Shatterhand dan kepala suku Indian Mescalero Apache Winnetou, penulis Jerman ini membawa Jatna muda ikut merasakan berpetualang di kehidupan padang rumput Amerika pada abad ke-18.

“Pas ke Amerika, saya sebetulnya diterima di New Haven dan Michigan tetapi saya tidak ambil. Saya cari sekolah di kota yang ada orang Indiannya, di New Mexico University. Suku Apache itu lokasinya 30 kilo meter dari tempat kuliah saya. Itu termasuk mengapa saya mengambil antropologi. Saya sampai diadopsi suku Indian di situ,” katanya.

Di balik kehebatan sosok Jatna, kerendahan hatinya tampak dari cara dia menghargai dan menghormati peran serta interaksinya dengan penduduk asli di pedalaman.

At the end [pada akhirnya] , saya menikmati Indonesia, begitu indah, begitu bervariasi,” ujarnya.

Dia juga memuji kearifan penduduk lokal Indonesia.

“Kalau ingin tahu tentang monyet, tentang biodiversity [keanekaragaman hayati], kita tanya penduduk, mereka lebih tahu dibandingkan kita tanya ke pejabat atau peneliti,” kata Jatna.