Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil mengubah limbah alumunium foil atau kaleng bekas menjadi bahan bakar energi listrik ramah lingkungan.

Tiga mahasiswa berbakat tersebut terdiri dari Umi Fadhilah, Arga Krisna, dan Wafa Nida Faida Azra.

Dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com dari RRI, mereka bertiga membuat desain generator penghasil energi listrik ramah lingkungan dari limbah aluminium tersebut.

Baca Juga: Shalza Grasita Tiba-tiba ‘Ditendang’ dari JKT48, Warganet Geram Serang Pihak Manajer

Berbeda dengan genset biasa yang tidak ramah lingkungan, generator hidrogen tersebut dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan pastinya lebih irit biaya.

“Generator hidrogen itu semacam genset. Namun genset umumnya tidak ramah lingkungan karena menggunakan bahan bakar seperti solar yang efek sampingnya dapat merusak lingkungan,” kata Wafa, Selasa, 22 September 2020.

Lebih lanjut mahasiswa angkatan 2018 tersebut menjelaskan, Generator Hidrogen Otomatis tersebut merupakan alat penghasil listrik yang berasal dari air dan limbah alumunium.

Menurutnya, bahan bakar dari generator tersebut berasal dari barang bekas yang sudah tak terpakai seperti serbuk alumunium, aluminium foil atau kaleng bekas makanan minuman.

Dia menambahkan, dalam pengerjaan membuat Generator Hidrogen Otomatis tersebut memakan waktu hingga dua bulan.

“Desainnya terdiri dari beberapa komponen yaitu pengolahan aluminium, tiga chamber berupa chamber aquades, chamber NaOH, reaktor chamber, gas bag, hydrogen fuel cell, converter serta electricity storage,” ucapnya.

Generator Hidrogen Otomatis ini, sambung Wafa, dibuat dengan teknologi berbasis otomatisasi dan hydrogen fuel cell.

“Teknologi ini dalam pengoperasiannya tidak membutuhkan banyak energi sehingga dapat bekerja secara efektif dan efisien,” katanya.

Koordinator tim, Umi mengatakan, Generator Hidrogen Otomatis ini mampu membantu mengurangi suhu permukaan bumi akibat gas rumah kaca dan dapat memanfaatkan limbah aluminium menjadi energi listrik.

“Cara kerjanya dimulai dengan mereaksikan limbah aluminium dan (H2O) dengan bantuan katalis NaOH, sehingga akan menghasilkan hidrogen, Hidrogen tersebut akan ditampung di dalam gas bag,” ungkap Umi.

Setelah ditampung di dalam gas bag, hidrogen akan dikonversi menjadi energi listrik menggunakan hydrogen fuel cell.

Hydrogen fuel cell ini berfungsi sebagai konverter gas H2 yang menjadi energi listrik dengan cara exchange elektron. Setelah itu, listrik akan dialirkan menuju inverter dan disimpan dalam baterai rechargeable sehingga dapat digunakan setiap saat,” kata dia.

Dosen pembimbing, Angky Wahyu Putranto menilai, alat tersebut berpotensi untuk dikembangkan lagi. Harapannya, temuan kni dapat menjadi alternatif bagi permasalahan penumpukan limbah aluminium yang tidak dimanfaatkan secara maksimal.

“Sehingga bisa menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan akibat penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan,” ucapnya.