Sekitar 70 persen terumbu karang yang tersebar di Teluk Youtefa, Kota Jayapura, Papua, rusak berat. Kesadaran warga untuk menjaganya berperan penting bagi kelestarian terumbu karang.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perikanan Kota Jayapura, Matheys Sibi saat dihubungi melalui panggilan telepon pada Sabtu (17/10/2020). Sibi menyebut terumbu karang di sejumlah pantai di Kota Jayapura, seperti seperti Base-G, Holtekamp, Kayu Pulau, dan perairan Abepantai rusak berat.

“Terumbu karang di sana rusak karena faktor alam dan ulah manusia. Tetapi kebanyakan rusak akibat aktivitas penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti dopis atau bom ikan. Sudah rusak total, Tidak ada spot wisata bawah laut yang bisa dinikmati,” ujar Sibi.

Menurutnya, kerusakan terumbu karang di perairan Teluk Youtefa terjadi dalam jangka waktu yang panjang. “Sebenarnya kita terkena dampaknya saja, karena dulu [keberadaan terumbu karang] kurang  diawasi. Saya berharap mulai sekarang kita menjaga terumbu karang, agar bisa dinikmati anak cucu ke depan,” ujar Sibi.

Sibi menjelaskan terumbu karang memiliki beragam fungsi, mulai dari penahan gelombang laut, tembak berbiak ikan, dan dalam kondisi sehat akan memiliki wujud yang indah sehingga menarik minat wisatawan. Meskipun sekilas terlihat seperti batu di dasar laut, namun terumbu karang adalah makhluk hidup yang bernafas dan membutuhkan nutrisi.

Oleh karena itu, berbagai pihak berupaya melestarian terumbu karang di perairan Teluk Youtefa, termasuk dengan transplantasi karang. “Sekarang ini, kegiatan transplantasi terumbu karang, pemasangan rumah ikan, dan pencegahannya mulai gencar dilakukan,” ujar Sibi.

Sibi berharap semua pihak berperan menjaga kelestarian terumbu karang. Setiap warga dapat menjaga kelestarian terumbu karang dengan menjaga kebersihan sungai dan pesisir, menangkap ikan tanpa merusak karang, tidak mengambil karang, dan mengajarkan kepada anak-anak untuk menjaga terumbu karang.

Sarifudin, nelayan di Dok 9, Distrik Jayapura Utara sangat menyayangkan warga yang mencari ikan menggunakan bom ikan, karena alat tangkap seperti itu merusak terumbu karang. “Kalau memakai bom ikan, ikan yang kecil ikut mati. Memancing di laut dangkal sekarang ikannya kecil-kecil, [padahal] dulu [ikan di sana] besar-besar,” ujar Sarifudin saat ditemui di Tempat Pelelangan Ikan Hamadi, Kota Jayapura.

Sarifudin berharap, tidak ada lagi warga yang mencari ikan menggunakan bom ikan rakitan. Penggunaan bom ikan disebutnya merusak habitat tempat ikan berbiak.

“Dari saya masih SD orang sudah memakai bom ikan, bagaimana karang tidak mau hancur? Biasanya orang rakit bom ikan memakai bahan dasar kaca, seperti bekas botol sirup dan kecap yang diracik dengan belerang dan korek api,” ujar Sarifudin.