Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno mengatakan, Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Wehea-Kelay sudah menerapkan apa yang dinamakan konservasi lintas batas.

“Konservasi lintas batas adalah di mana konservasi tidak bisa dibatasi hanya di kawasan konservasi atau hutan lindung. Di mana pun ia berada,” kata dia.

Pernyataan itu Wiratno sampaikan dalam webinar Pengembangan Ekowisata Alam dan Primata di Bentang Alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur, Rabu (23/9/2020).

Menurut dia, Wehea-Kelay yang tidak termasuk kawasan konservasi, justru sudah menjadi rumah bagi orangutan Kalimantan.

Itu karena Wehea-Kelay dianggap oleh orangutan sebagai tempat paling aman dan nyaman untuk ditinggali di Kalimantan. Tak heran, banyak sekali orangutan di Wehea-Kelay.

“Karena this is the most savest place, daerah paling aman untuk dia (orangutan),” imbuh Wiratno.

Kasus yang sama seperti Wehea-Kelay juga terjadi di Dusun Jatimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa masyarakat di sana telah berhasil melindungi dan melestarikan alam bersandingan dengan pariwisata.

“Ketika dibuat Perdes tentang larangan menembak burung, tidak lama, setahun kemudian, ratusan jenis burung datang ke desa itu. Desa itu kini menjadi desa wisata berbasis burung,” ujar dia.

Orangutan di KEE Wehea-Kelay, Kalimantan Timur – Dokumentasi Lebin Yen

Ia menyebut bahwa Wehea-Kelay dan Dusun Jatimulyo sama-sama telah menerapkan Collective Action. Lebih jauh Wiratno menjelaskan, collective action hanya bisa terjadi ketika terbangun collective awareness.

“Konservasi lintas batas membutuhkan multi-stakeholder, multi-pihak, siapa pun boleh ikut. Kedua, multi-disipliner, berbagai macam ilmu, multilevel leadership,” kata dia.

Selain itu, konservasi lintas batas juga membutuhkan perbaikan berkelanjutan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.

Menurut Wiratno, Wehea-Kelay telah menerapkan hal ini terwujud dari adanya kombinasi antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal.

Ilmu pengetahuan dan kearifan lokal itu pun, kata dia, juga telah dipublikasikan melalui buku-buku yang dikeluarkan Forum KEE Wehea-Kelay.

Sekadar informasi, forum KEE Wehea-Kelay telah mengeluarkan enam buku tentang Wehea-Kelay yang semuanya berfokus pada primata orangutan.

Hutan di KEE Wehea-Kelay, Kalimantan Timur – Dokumentasi Mohamad Arif Rifqi

Terakhir, Wehea-Kelay juga dinilai telah menerapkan mentorship at field level. Konsep ini merupakan pendampingan konservasi lintas batas oleh tokoh-tokoh di balik layar.

Wehea-Kelay merupakan sebuah Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang menjadi rumah bagi ribuan individu orangutan, satwan dan tumbuhan lainnya.

Kawasan ini merupakan habitat bagi setidaknya 1.282 individu orangutan, 713 jenis tumbuhan, 77 jenis mamalia, 270 jenis burung, 46 jenis reptil, 70 jenis amfibi, dan 44 jenis kupu-kupu.

Lokasinya berada di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan ini dikelola oleh Forum KEE Wehea-Kelay yang berkomitmen dalam pengelolaan habitat orangutan dan ekosistemnya di bentang alam tersebut.

Forum ini berisi 23 anggota yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, masyarakat, akademisi dan lembaga swadaya masyarakat.