Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Gresik menunjukkan tren yang positif. Dalam beberapa tahun terakhir potensi wisata baru juga terus bermunculan.

Sebelumnya Gresik hanya memiliki 40 lokasi wisata, tapi sekarang berkembang pesat menjadi 128 objek daya tarik wisata (ODTW). Tentu semua ini tak bisa lepas dari peran pemerintah daerah (Pemda), yang juga ikut aktif memberikan pendampingan sehingga banyak melahirkan kelompok sadar wisata (pokdarwis).

Dulu, jumlah pokdarwis yang benar benar aktif hanya 9. Berbeda dengan sekarang menjadi 42 pokdarwis. Semuanya tersebar di pelosok desa se Kabupaten Gresik. Termasuk 20 pokdarwis di antaranya ada di Pulau Bawean yang memang memiliki potensi wisata luar biasa.

Tren positif di sektor wisata ini pun mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Yaitu salah satunya dari pengamat dan pemerhati pariwisata Pulau Bawean, Muhammad. “Di Bawean sudah mulai berjalan, perlahan masyarakat sudah sadar tentang pentingnya wisata,” katanya.

Kendati demikian, tapi harapannya masih perlu ada perbaikan lagi. Terutama masalah kebersihan di lingkungan sekitar lokasi wisata. Sebab dalam mengoptimalkan pariwisata di Pulau Bawean harus diimbangi dengan memperhatikan kebersihan.

“Memang ada sebagian masyarakat yang sudah sadar untuk menjaga kebersihan di lingkungan wisata dari sampah bekas makanan wisatawan lokal maupun non lokal,” katanya. Tapi, Muk Aje panggilan akrabnya berharap, kesadaran bersama untuk tetap melestarikan alam dan lingkungan ini perlu dorongan kuat pemerintah. Misalnya dengan adanya program prioritas seperti konsep ecotourism.

“Kita berharap kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Gresik Qosim – Alif (QA) jika nanti terpilih, mempunyai program prioritas di sektor pariwisata terutama Pulau Bawean,” jelasnya.

Menurutnya, konsep ecotourism adalah pilihan yang tepat untuk pengembangan wisata di pulau terluar Kabupaten Gresik, Bawean. Karena konsep ini merupakan jenis pariwisata berwawasan lingkungan yang berisi tentang beberapa hal. Antara lain aktivitas melihat, menyaksikan, mempelajari, mengagumi alam serta flora dan fauna, juga terhadap nilai sosial budaya dan etnis setempat.

“Daya dukung kawasan pesisir dan pertanian cukup potensial dalam upaya pengembangan wisata bebasis lingkungan atau alam, budaya dan tradisi di Bawean,” urainya. Tidak hanya itu saja. Selain pengembangan kawasan pesisir sebagai wisata, di sekor pertanian juga sebenarnya mempunyai  potensi bagus jika digarap dengan konsep terpadu.

“Tentunya hal tersebut perlu ada dukungan dan ketersediaan sumber daya air yang cukup,” kata aktivis lingkungan asal Bawean ini.

Jika berminat mengembangkan kawasan pertanian sebagai ODTW, maka perlu ditunjang dengan pembangunan waduk skala pedesaan. Sehingga nanti dapat menjadikan kawasan pertanian terpadu dengan wisata agro.

“Kami berharap hal tersebut menjadi program pasangan calon  Bupati dan wakil Bupati Oosim-Alif ke depannya, dan kami akan serius mendukung,” tandasnya. Apresiasi terhadap pengembangan sektor wisata di daerah setempat juga datang dari General Manager Aston Inn Gresik, Paminta Nugraha. Salah satunya wisata religi yang menjadi primadona di Gresik. “Wisata religi ini menjadi ciri khas Gresik,” tuturnya.

Sedangkan untuk sektor wisata alam diakuinya, bahwa Pulau Bawean menjadi daya tarik bagi pengunjung untuk mencari hiburan atau refreshing. “Tapi kendalanya saat ini memang masih transportasi yang minim, sehingga belum bisa optimal,” ucapnya.

Sementara cabup nomor urut 1 Moh Qosim menegaskan, pihaknya bersama dr. Asluchul Alif (Qosim-Alif, red) juga sudah menyiapkan program di sektor wisata. Antara lainnya program ‘Ayo Dolan Neng Gresik’ (Mari bermain ke Gresik).

 “Ada Gresik Dewasa (Destinasi Wisata Desa), dan juga Gresik Dewa Aji (Destinasi Wisata Religi),” kata Pak Qosim, sapaan akrab Wakil Bupati dua periode tersebut.

Melalui program ‘Gresik Dewasa’ ini akan ada pendampingan pemerintah daerah (Pemda) dalam pengembangan wisata desa. Sehingga bisa menjadi solusi pengungkit pertumbuhan pada sektor ekonomi di tengah transisi pandemi warga pedesaan.

Sedangkan konsep ‘Gresik Dewa AJI’ akan mengoptimalkan pengembangan dan pengelolaan destinasi wisata religi Kabupaten Gresik di daratan maupun kepulauan. Hal ini akan menjadi nilai tambah ekonomi baru bagi warga masyarakat sekitar.

Kemudian dari sisi penganggaran juga akan terus dioptimalkan. Semua ini dilakukan dalam rangka mendorong pengembangan wisata di Gresik.

Dan perlu diketahui, pada tahun 2020 ini alokasi anggaran pariwisata sedianya naik menjadi sekitar Rp 12 miliar dibandingkan sebelumnya. Tapi rencana itu berubah menyusul terjadinya pandemi Covid-19, sehingga anggaran pun tersedot untuk keperluan mendesak penanganan covid. Adapun capaian pendapatan retribusi dari sektor wisata pada tahun 2019 kemarin adalah Rp 2,2 miliar.